Prasetya Online

>

Berita UB

Dosen Fapet UB Dapatkan Gelar Doktor Untuk Mengkaji Pengembangan Kelembagaan Pelestarian Sapi Madura

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh dietodita pada 30 Januari 2019 | Komentar : 0 | Dilihat : 231

Disertasi Ir. Suprih Bambang Siswijono, MS
Disertasi Ir. Suprih Bambang Siswijono, MS
Populasi ternak sapi potong di Madura pada tahun 2016 ada sebanyak 931.112 ekor, sedangkan populasi di Jawa Timur yang tersebar di 39 wilayah kota dan kabupaten mencapai 4.407.807 ekor. Meskipun berdasarkan data Dinas Peternakan Jawa Timur tahun 2017 yang menunjukkan peningkatan populasi ternak sapi potong di Madura, namun populasi tersebut masih rendah apabila dibandingkan dengan populasi ternak sapi potong di Jawa Timur. Hal ini mengindikasikan bahwa keberagamaan produksi ternak sapi di Madura relatif lebih rendah dibanding Jawa Timur.

Permasalahannya peternak di wilayah Madura cenderung menutup diri untuk mengembangkan ternak sapi diluar bangsa sapi Madura. Misalnya pelarangan perkawinan silang antara sapi Madura dengan bangsa sapi lain, sebagai upaya menjaga kelestarian sapi Madura dan salah satu plasma nutfah sapi lokal Indonesia. Disatu sisi persilangan mampu meningkatkan keberagamaan produksi ternak sapi Madura.

Namun di beberapa wilayah Madura ditemukan peternak kerap menggunakan semen beku pejantan unggul dari sapi bangsa lain melalui metode Inseminasi Buatan (IB). Perubahan perilaku peternak ini apabila dikembangkan dapat mengancam keberadaan sapi Madura. Oleh karenanya, dibutuhkan penetapan wilayah pelestarian sapi Madura. Situasi ini menimbulkan dilema dalam pembangunan peternakan di Madura.

Menilik permasalahan tersebut dosen Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (Fapet UB), Ir. Suprih Bambang Siswijono, MS memberikan solusi upaya antisipasi agar sapi Madura tidak punah yakni dengan melakukan kegiatan penelitian kelembagaan pelestarian sapi Madura. Oleh sebab itu, dibawah komisi pembimbing Prof. Zaenal Fanani, Dr. Bambang Ali Nugroho, dan Prof. V.M. Ani Nurgiartiningsih, ia melakukan penelitian berjudul “Pengembangan Kelembagaan Pelestarian Sapi Madura”.

Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode survei, yangmana pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi partisipasi dan focus group discussion (FGD), serta studi dokumentasi. Sementara jumlah responden adalah 125 peternak sapi yang dipilih dengan teknik purposive random sampling. Data-data yang diperoleh dianalisis menggunakan metode deskriptif analitis dan Analithical Hierarchy Process (AHP).

Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa kelembagaan pelestarian sapi Madura telah banyak mengalami perkembangan terkait upaya pelestarian sapi Madura sebagai plasma nutfah sapi lokal Indonesia, akan tetapi kelembagaan cenderung mengatur tentang kewajiban yang harus dipenuhi oleh peternak tanpa mengatur hak yang sewajarnya diperoleh oleh peternak.

Selain itu, Suprih menemukan beberapa faktor pendorong pelestarian sapi Madura antara lain penetapan rumpun dan SNI sapi Madura, penetapan Pulau Sapudi sebagai pembibitan sapi Madura, dan budaya masyarakat Madura dalam bentuk kegiatan kerapan sapi dan kontes sapi sonok. Sedangkan faktor penghambat pelestarian adalah anggapan peternak mengenai nilai ekonomi ternak sapi hasil persilangan serta insentif yang berbeda antara peternak sapi bangsa Madura dan peternak sapi persilangan.

Melalui penelitian tersebut diharapkan hasil penelitian dapat digunakan sebagai basis merumuskan konsep pengembangan kelembagaan pelestarian sapi Madura sekaligus merumuskan kebijakan pembangunan peternakan sapi di Madura. Penelitian sebagai syarat ujian akhir disertasi untuk mendapatkan gelar doktor ini telah diujikan secara terbuka pada hari Kamis, (24/01/2019). (dta/Humas UB)

 

 

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID