Prasetya Online

>

Berita UB

Dosen FP UB Memberi Orasi di Yamaguchi dan Osaka

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF Versi Word
Dikirim oleh prasetyaFP pada 18 November 2014 | Komentar : 0 | Dilihat : 2803

Anton Muhibuddin bersama peneliti Jepang
Anton Muhibuddin bersama peneliti Jepang
Potensi biodiversitas di Indonesia yang sangat baik menjadi daya tarik negara lain untuk ikut melibatkan Indonesia dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Demikian halnya dengan Yamaguchi University (Yamaguchi) dan Osaka Prefecture University (Osaka) selama tiga hari (5-17/11) mengundang dosen Fakultas Pertanian universitas Brawijaya (FP UB), Anton Muhibuddin untuk memberikan Orasi bertajuk “Soil Drive Nutrients Creation through Alternate Host System Propagation of VAM to Support Selective Exploration of Microbial Fermentation”. Selain memberikan orasi, Anton selaku presiden coordinator dari Core to Core Program (CCP) untuk wilayah Indonesia-Malaysia-Australia juga membawa misi untuk merancang road map penelitian yang akan dikerjakan peneliti-peneliti dalam payung CCP dunia.

Mendasarkan pada keunggulan ekologi di Indonesia, Malaysia, dan Australia, maka fokus penelitian yang menjadi prioritas peneliti-peneliti di ketiga negara tersebut adalah tentang eksplorasi keanekaragaman mikroba endogenous dan optimasi potensi perannya dalam bioteknologi. Dalam program CCP tersebut, pendanaan untuk penelitian akan dilakukan oleh pemerintah Jepang melalui JSPS, pemerintah Thailand melalui NRCT, Ristek-Dikti-UB, dan Pemerintah masing-masing negara. Saat ini coordinator CCP untuk wilayah Indonesia, Malaysia dan Australia adalah Universitas Brawijaya (UB).

Dalam paparannya, Anton menjelaskan tentang bangunan biostruktur tanah yang diinisiasi oleh simbiose antara jamur Vesicular Arbuscular Mycorrhizae dengan tanaman inang spesifiknya dalam bentuk tiga lapisan system perakaran yang berbeda sebagai model untuk microbes biotrapping dan sekaligus sebagai soil nutritional bank. Model yang selanjutnya dinamakan soil drive nutrient system (SDN) ini ditemukan oleh Anton bersama timnya pada tahun 2013 yang lalu dan selanjutnya dikembangkan bersama peneliti dari Beuth University-Berlin ini memiliki keunggulan sebagai kunci untuk perbaikan ekosistem tanah.

Sistem SDN dalam implementasinya selain sangat efektif untuk microbial biotrapping juga dapat digunakan untuk biophytoremediation lahan bekas pertambangan. Di Indonesia sendiri, model ini digunakan untuk mengatasi persoalan lahan bekas pertambangan timah di Bangka, lahan bekas pertambangan Mangan (Mn) di Kupang dan di lokasi lainnya. Dengan penerapan system SDN, remediasi lahan akan memakan waktu tiga kali lebih cepat apabila dibandingkan penerapan metode sebelumnya. Selain itu, secara ekonomi, penerapan system SDN jauh lebih menguntungkan masyarakat karena masyarakat sudah dapat memperoleh keuntungan dari hasil tanaman budidaya sejak awal implementasi di lapangan. [anton/waw/rian]

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID