Prasetya Online

>

Berita UB

Dosen FP-UB Dampingi Aparat Kota Batu ke New Zealand

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF Versi Word
Dikirim oleh humas1 pada 24 Juni 2010 | Komentar : 0 | Dilihat : 4748

Ir Liliek Setyobudi PhD
Ir Liliek Setyobudi PhD
Pembangunan Kota Batu sebagai kawasan agropolitan seharusnya mampu meningkatkan taraf ekonomi warga masyarakatnya. Beberapa potensi utama seperti pertanian, peternakan dan pariwisata di Kota Apel ini layak dikembangkan secara maksimal sehingga mampu memicu peningkatan kesejahteraan. Pengembangan agropolitan di beberapa negara telah mampu membuktikan hal tersebut diantaranya New Zealand. Oleh karena itu, Pemerintah Kota Batu berinisiatif untuk mengirimkan aparat dan perwakilan petani ke negeri kiwi ini dalam konsep study tour. "Melalui study tour ke New Zealand, harapannya mereka dapat menyaksikan sendiri pengelolaan pertanian, peternakan dan pariwisata disana", ungkap Ir. Liliek Setyobudi, PhD yang juga akan turut serta dalam kegiatan ini. Dosen Fakultas Pertanian Univeristas Brawijaya (FP-UB) tersebut adalah staf ahli Local Economy Resource Development (LERD) Kota Batu, yang diangkat khusus dengan Surat Keputusan Walikota sebagai satu upaya untuk meningkatkan peran perguruan tinggi kepada masyarakat sekitar.
Diwawancarai di Gedung Inkubator Bisnis kemarin (23/6), Liliek menuturkan, dirinya akan memimpin rombongan Kota Batu yang terdiri atas Kepala Dinas Pertanian beserta staf dan dua orang petani. Selama seminggu (27/6-4/7) di New Zealand, mereka akan melihat langsung beberapa kawasan seperti Palmerston North, Hawke's Bay, Massey Farm dan windmills. "Di Hawke's Bay mereka akan melihat budidaya hortikultura seperti sayuran, anggur, apel, dan buah kiwi. Sementara di windmills, mereka akan melihat langsung pemanfaatan angin sebagai sumber energi", terang Liliek. Selain itu, mereka juga diagendakan akan mempelajari pemanfaatan lahan, manajemen agrowisata, kehutanan serta peternakan sapi dan domba.
Dalam menjalankan berbagai aktivitas ini, mereka akan didampingi orang-orang yang berkompeten diantaranya Prof. Ian Warrington (Massey University), Bryan Taylor (Director of Agriculture Services) serta Dr. James Millner (Institute of Natural Resources). "Dalam hal manajemen produksi pertanian, rombongan akan diajak langsung melihat produksi di lahan, industri proses dan pasar", ujar Liliek. Dengan begitu, Liliek berharap mampu menegaskan nasehat yang berkali-kali disampaikan kepada para petani untuk tidak menjual komoditas dengan kualitas rendah. "Jangan menjual grade C ke bawah. Komoditas yang dijual ke pasar hanya untuk grade A dan B agar harga tidak gampang merosot, karena umumnya konsumen tidak percaya dengan kualitas rendah walaupun harganya murah", terangnya mengulangi nasehat yang berkali-kali disampaikan kepada petani.Untuk Grade C ke bawah, kepada PRASETYA Online ia menjelaskan, dirinya selalu menekankan untuk memproses menjadi produk olahan sehingga nilai tambahnya bisa meningkat. [nok]

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID