Prasetya Online

>

Berita UB

Dosen FMIPA UB Lakukan Pengabdian Masyarakat Ubah Urin Sapi Jadi Pupuk Cair

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh ireneparamita pada 04 Juli 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 193

Opening Ceremony Pengabdian Masyarakat di Desa Ngabab dihadiri Konjen Australia
Opening Ceremony Pengabdian Masyarakat di Desa Ngabab dihadiri Konjen Australia
Sebanyak 56,67 persen peternak sapi perah membuang limbah ke badan sungai tanpa pengelolaan, sehingga terjadi pencemaran lingkungan. Pencemaran ini disebabkan oleh aktivitas peternakan, terutama berasal dari limbah yang dikeluarkan oleh ternak yaitu feses, urine, sisa pakan, dan air sisa pembersihan ternak dan kandang.

Banyak peneliti yang mulai menggalakkan cara budidaya tanaman pertanian dengan limbah ternak terutama urin sapi. Akan tetapi masih sedikit petani yang menerapkannya. Padahal pengolahan limbah peternakan urin sapi menjadi pupuk organik mempunyai efek jangka panjang yang baik bagi tanah. Yaitu dapat memperbaiki struktur kandungan organik tanah, karena urin memiliki banyak jenis kandungan unsur hara yang diperlukan tanah dan hasil pertanian yang aman.

Berangkat dari latar belakang tersebut, Dosen Kimia Fakultas MIPA Universitas Brawijaya (UB) Anna Safitri, Ph.D mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yaitu membuat pupuk cair dari urin sapi melalui proses fermentasi. Anna bersama tim yang terdiri atas Anna Roosdiana, M.App.Sc., Dr. Arie Srihardyastutie, dan Masruri, Ph.D menyelenggarakan kegiatan tersebut di Desa Ngabab, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang.

Pupuk Cair dari Urin Sapi
Pupuk Cair dari Urin Sapi
Anna Safitri menyampaikan, Desa Ngabab sangat potensial dalam segi peternakan karena merupakan daerah penghasil susu sapi terbesar yang ada di Kecamatan Pujon. Setiap hari rata-rata produksi susu yang dihasilkan sebanyak 10 ribu liter (10 ton). Produksi susu sebanyak itu diperoleh dari 1.900 ekor sapi perah yang dimiliki oleh para warga Desa Ngabab.

"Dari data potensi peternakan di desa Ngabab tersebut, terlihat potensi urin sapi yang dihasilkan per hari juga besar. Hal ini tentunya dapat menimbulkan dampak lingkungan kepada masyarakat desa. Sehingga perlu diadakan suatu kegiatan untuk pengelolaan limbah peternakan, khususnya urin sapi yang dihasilkan," papar Anna.

Anna menjelaskan, teknologi fermentasi urin sapi menggunakan bakteri pengurai EM-4 (effective microorganism 4) adalah teknologi baru. Teknik ini dapat mempercepat proses degradasi urin sapi sekaligus meningkatkan kadar NPK. Karena di dalam EM-4 terdapat mikroorganisme Rhodopseudomonas sp, Lactobacillus sp, dan Sacharomyces sp yang mampu menguraikan dan menyusun ulang struktur kimiawi dari nutrisi-nutrisi dalam urin sapi sehingga dapat digunakan sebagai pupuk cair.

Nutrisi baru yang akan dihasilkan dari fermentasi urin sapi ini adalah N, P, dan K dalam bentuk senyawaan nitrat (NO3-), amonium (NH4+), fosfat (PO42-), dan kalium oksida (K2O). Unsur N, P, dan K dalam senyawaan tersebut mempunyai peranan penting bagi tanaman, yaitu merangsang pertumbuhan vegetatif oleh unsur N, memacu terbentuknya bunga dan bulir oleh unsur P, dan menjamin kesehatan dan  kesegaran tanaman oleh unsur K.

Sasaran dari kegiatan ini adalah peternak sapi perah dan warga desa Ngabab. Jumlah peserta kegiatan maksimal 50 orang. Kegiatan yang dimulai pada bulan Juli 2018 ini dilakukan melalui empat tahapan yaitu pengambilan sampel urin sapi, pembuatan urin sapi menjadi pupuk cair, evaluasi pupuk cair yang dihasilkan, serta penyuluhan dan sosialisasi hasil uji kandungan N, P, K pada pupuk cair yang dihasilkan.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini mendapatkan pendanaan dari pemerintah Australia melalui Australian Alumni Grant Scheme (Skema dana hibah alumni Australia) putaran 1 Tahun 2018, yang diadministrasikan oleh Australia Awards di Indonesia. Program pengabdian masyarakat ini telah dibuka secara resmi oleh Konjen Australia pada Senin (2/7/2018), di desa Ngabab. [Anna/Irene]

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID