Prasetya Online

>

Berita UB

Dosen FISIKA UB Monitoring dan Eksplorasi Volcano Geothermal Cangar

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh denok pada 16 Januari 2017 | Komentar : 0 | Dilihat : 5539

Sukir Maryanto, S.Si., M.Si., PhD
Sukir Maryanto, S.Si., M.Si., PhD
Indonesia menyimpan potensi geothermal sekitar 29 Giga Watt atau 40% dari potensi dunia. Dari jumlah tersebut, 80% diantaranya tersimpan di gunung api atau disebut dengan volcano hosted geothermal. Dosen Jurusan Fisika FMIPA Universitas Brawijaya (UB) Sukir Maryanto, S.Si., M.Si., PhD menyampaikan Indonesia memiliki jumlah gunung api terbanyak di dunia yakni sekitar 127 gunung api atau 13.3% dari keseluruhan gunung api (volcano) dunia.

Namun sayangnya, Indonesia belum menyadari potensi tersebut. Sukir menilai monitoring gunung api tersebut masih rendah. Piranti monitoring gunung api saja menurutnya masih menggunakan teknologi tahun 70-an dengan kondisi minimal.

Dari mega proyek pembangkit listrik 35 Giga Watt yang dikebut pemerintah Republik Indonesia, geothermal ditarget mampu menyumbang 9 Giga Watt. Selama ini geothermal (panas bumi) baru menyumbang 1.500 Mega Watt, 5% dari keseluruhan potensi yang ada. Jumlah tersebut disumbang dari eksplorasi yang dilakukan di Gunung Kamojang (Jawa Barat), Dataran Tinggi Dieng (Jawa Tengah), Lahendong (Sulawesi Utara), Ulubelu (Lampung), Ijen (Jawa Timur).

Sukir mencontohkan, di Hawaii misalnya, geothermal telah memasok 20% dari keseluruhan kebutuhan listrik kawasan tersebut. Beberapa pemain geothermal Indonesia, disebut Sukir adalah Star Energy, Medco Energy, PGE (Pertamina Geothermal Energy), Chevron, HiTay Holdings Turki. Untuk Jawa Timur sendiri, eksploitasi panas bumi di Ijen dilakukan oleh Medco.

Sukir menyampaikan bahwa eksplorasi dan eksploitasi geothermal merupakan aktivitas padat teknologi yang membutuhkan biaya tinggi. Karena itu, subsidi pemerintah masih sangat diperlukan. Dari aturan yang ditetapkan pemerintah, geothermal tidak masuk sebagai barang tambang sehingga bisa digunakan baik langsung maupun tidak langsung. Pemanfaatan geothermal langsung diantaranya pada agrifarm, sementara yang tidak langsung adalah pembangkit listrik.

Di Agrotechnopark milik Universitas Brawijaya di Cangar Kota Batu, alumni program Doktor Kyoto University Jepang ini berencana membangun pusat penelitian volcano geothermal. Sebelumnya, Sukir telah melakukan pilot study terkait monitoring dan eksplorasi gunung api di Gunung Ijen dengan dukungan dana USAID (United States Aid for International Development). Dengan melihat potensi yang mirip, ia pun memperluas kajiannya di Cangar untuk meneliti Volcano Hosted Geothermal. Menurutnya, telah banyak pihak yang tertarik untuk bekerjasama diantaranya adalah USGS (United States Geological Survey).

Selama ini, disampaikan Sukir, penelitian tentang volcano dan geothermal di Indonesia dilakukan secara terpisah. Padahal, menurutnya, 80% dari potensi geothermal Indonesia adalah volcano geothermal, yang diberi nama volcano hosted geothermal.  "Belum banyak yang menyadari hal ini. Walaupun telah menyadari, tetapi tidak dilakukan kajian lebih lanjut," kata dia.

Dari koordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung, diketahui bahwa lokasi observatori PVMBG yang ada di Tretes ternyata tidak bisa melihat langsung aktivitas Gunung Welirang. Justru yang bisa melihat langsung aktivitas tersebut ada di kawasan Agrotechnopark Cangar. Bahkan, Sukir mengatakan, telah membuka akses jalur menuju Welirang dari lokasi tersebut.

Bekerjasama dengan Tahura, pihaknya berencana untuk membuka stasiun seismik, stasiun magneto thermic, dll di lereng Arjuno Welirang sebagai pusat penelitian dan pusat studi.

Menggandeng lembaga Hydrogeology and geothermic Centre di Swiss, Sukir juga berencana mengembangkan kajian hidrogeologi di Cangar. Hal ini menurutnya sejalan dengan visi Walikota Batu untuk mengeksplorasi potensi di Batu termasuk potensi eduwisata kawasan Batu Utara, yang juga meliputi Cangar.

Lebih jauh, kawasan ini juga direncanakan akan menjadi kawasan mandiri energi melalui pemanfaatan micro hydro. Dari informasi ESDM, potensi geothermal di kawasan ini adalah 110 Kwh dengan manifestasi diantaranya air panas, sulfatara, fumarol yang telah diukur dengan alat magneto thermic.

Sejak 2015, berbagai aktivitas workshop dan perkuliahan telah dilakukan di agrotechnopark seperti workshop panas bumi, workshop geofisika, mata kuliah fisika gunung api dan fisika lingkungan. Dari eksplorasi dalam aktivitas tersebut telah diketahui reservoir dan karakteristik air tanah untuk mendukung berbagai aktivitas seperti pengembangan mikrohidro dan agrifarm.

Dengan aktivitas Welirang saat ini, Sukir pun berupaya mengembangkan inovasi dalam mengintegrasikan model terbaru monitoring dan eksplorasi yang belum pernah disentuh siapapun. Salah satu metode monitoring volcano yang menurut Sukir powerful adalah gabungan antara metode seismic, metode deformasi, metode visual dan metode geokimia. Dinilai powerful karena aktivitas internal magma bisa dideteksi dari sinyal seismiknya. Sementara metode geofisika seperti metode magnetic, gravity dan geolistrik dilakukan untuk pemantauan jangka panjang. Alat yang diantaranya telah dimiliki UB untuk monitoring adalah Seismometer dan data Acquisition System. Sejarah monitoring gunung api, disampaikan Sukir, diinisiasi oleh aktivitas vulkano Gunung Kelud pada 1919 yang ditandai dengan adanya terowongan Belanda di kawasan Kelud.

Arjuno dan Welirang, menurut Sukir merupakan gunung tipe B yakni gunung yang tertidur dulu. "Namun jika lengah maka bisa seperti sinabung. Sinabung itu tertidur selama 400 tahun dan begitu bangun, tidak berhenti. Wedhus gembelnya Sinabung masih terus berlangsung," katanya. Sukir menandaskan bahwa Gunung Welirang adalah non-aktif, namun yang aktif adalah geothermalnya.

Sebagai lembaga pendidikan dan penelitian, maka pihaknya tidak akan melakukan monitoring system di Cangar. Monitoring tetap wewenang PVMBG. Penelitian monitoring diantaranya bisa digunakan untuk wahana pendidikan kesiapsiagaan bencana, serta edukasi terkait pengetahuan vulkano geothermal. "Bahwa vulkano itu berbahaya tetapi bisa dimanfaatkan dan eksplorasi harus proposional karena ada unsur bahayanya juga," kata dia. Tawaran penelitian bersama terkait monitoring dan eksplorasi di Cangar berasal dari NCU Taiwan, Kyoto University, Hawaii University, Switzerland, Drexel University Amerika Serikat.

"Indonesia memiliki jumlah vulkano tertinggi namun monitoringnya terendah. Sementara Jepang memiliki jumlah vulkano nomor dua di dunia tetapi monitoringnya tertinggi di dunia dengan kesadaran dan pemahaman bencana telah diajarkan sejak TK," kata Sukir yang pernah tinggal di Jepang dan aktif meneliti di laboratorium milik Kyoto University. Karena itu, kini pihaknya juga tengah menyusun proposal untuk melakukan kajian sosial teknologi kebencanaan dalam mitigasi bencana gunung api berbasis masyarakat melalui school watching dan town watching. [Denok/Humas UB]

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID