Prasetya Online

>

Berita UB

Dosen Biologi Ciptakan Kolagen dari Sisik Ikan Gabus

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh denok pada 30 Maret 2017 | Komentar : 0 | Dilihat : 1984

Widodo, PhD.Med.Sc
Widodo, PhD.Med.Sc
Universitas Brawijaya (UB) berhasil meloloskan empat proposal dalam seleksi CPPBT (Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi) yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti Kemenristekdikti). Keempat proposal tersebut dipresentasikan oleh Prof. Ir. Sukoso, M.Sc., PhD (judul: "Teknologi Biohydropro Penghasil Protein dan Asam Amino"), Ahmad Zainuari, ST., MT (judul: "Smart Programmable Power Controller: Perangkat Optimalisasi Penggunaan Energi Listrik Dalam Rangka Mendukung Program Ketahanan Energi"), Widodo, PhD.Med.Sc (judul: "Produksi Natural Collagen Spray (NCS) Berbasis Hasil Samping Pengolahan Ikan") dan Dr. Mohammad Fadjar, M.Sc (judul: "Avibro, Bubuk Anti Vibriosis Untuk Budidaya Ikan dan Udang"). Presentasi dilakukan di Kemenristek Dikti pada Kamis (16/3/2017).

Kolagen dari Sisik Ikan Gabus

Kepada PRASETYA Online, Widodo yang juga Ketua Jurusan Biologi menyampaikan tentang produksi NCS (Natural Collagen Spray) menggunakan sisik ikan gabus. Koordinator Kelompok Jabatan Fungsional (KKJF) peneliti pada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Brawijaya (UB) ini menyampaikan, kolagen berfungsi untuk memperbaiki jaringan kulit yang rusak dengan efek anti-aging.

Widodo mengatakan, produksi NCS menggunakan teknologi sederhana yakni ekstraksi fisis sisik ikan gabus menjadi kolagen dalam bentuk cairan. "Ekstraksi tanpa menggunakan bahan kimia akan lebih aman buat kulit," katanya. Menggunakan hasil samping pengolahan ikan gabus, kolagen ini merupakan produk ramah lingkungan yang diharapkannya mampu menembus pasar internasional. Penggunaan ikan gabus, menurutnya juga menjadi alternative produksi kolagen yang selama ini tidak jelas kehalalannya.

Dengan penelitian yang masih skala laboratorium, Widodo berharap UB bisa memfasilitasi produksi massal NCS hingga komersialisasinya. Fasilitasi tersebut menurutnya bisa memanfaatkan technopark UB yang saat ini sedang dalam pembahasan.

Lebih jauh, Widodo menandaskan bahwa pihaknya tidak berkeinginan untuk mematenkan produk maupun proses produksi NCS. "Produksinya hanya menggunakan teknologi sederhana saja, jadi tidak perlu dipatenkan," katanya. Pria yang menamatkan studi doktoralnya di Jepang ini lebih memilih menggunakan rahasia dagang untuk menghadapi persaingan pasar. Hal ini karena telah banyak produsen kolagen di pasaran dengan teknologi produksi massal yang telah mapan disertai rantai distribusi yang bagus. "Harapannya produk ini bisa menjadi lisensi UB. Jadi tidak ada niatan untuk melepas ke perusahaan maupun UMKM," ungkap Widodo yang menjual produknya di kisaran lima puluh ribu rupiah.

Dalam pengembangan NCS, ia berencana melakukan diversifikasi bahan baku menggunakan sisik ikan kakap yang saat ini telah siap di ruang kerjanya, di Laboratorium Biomolekuler UB lantai dua. Jika saat ini masih dalam bentuk spray, maka kedepan kolagen ini akan dikemas dalam bentuk kapsul dan menjadi super healthy agent untuk mengatasi penyakit degenerative seperti jantung dan penyakit hati/liver. [denok/Humas UB]

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID