Prasetya Online

>

Berita UB

Diskusi Solusi Damai Kota Malang

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh prasetyafisip pada 06 April 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 173

Diskusi solusi damai Kota Malang
Diskusi solusi damai Kota Malang
Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) mengadakan diskusi publik dengan tema "Turbulensi Politik - Mencari Solusi Damai Kota Malang". Wawan Sobari S.IP, MA, PhD yang merupakan Ketua Prodi Magister Ilmu Sosial FISIP UB menjadi salah satu narasumber diskusi yang dibuka untuk umum. Tidak hanya masyarakat biasa yang hadir, para wartawan, perwakilan organisasi mahasiswa, perwakilan partai politik, organisasi kepemudaan, dan beberapa ulama juga turut mengikuti kegiatan ini hingga memenuhi ruangan.

Bertempat di lantai 3 Gedung DPRD kota Malang, menurut Wawan, diskusi ini menarik perhatian banyak pihak karena saat ini masyarakat kota Malang butuh kejelasan setelah Walikota ditetapkan menjadi tersangka kasus korupsi. "Bagi saya itu konsekuensi hukum yang harus diterima ketika mereka melakukan tindak pidana korupsi. Kalau Indonesia mengaku sebagai negara hukum memang harus seperti itu. Tidak peduli mereka calon atau siapa, KPK harus tetap bergerak", ujarnya (27/03/2018).

Diskusi ini juga membahas tentang kondisi kota Malang jika dilihat dari sisi politik dan hukum. Efek penangkapan walikota dan beberapa bawahannya terhadap dinamika elektabilitas dari calon walikota juga dibahas dalam diskusi ini. Tidak kalah penting, respon publik juga masuk dalam bahan diskusi, mengingat sebentar lagi akan ada pemilihan umum.

Malang merupakan kota dengan tantangan cukup berat. Transportasi umum, pelayanan publik, kualitas infrastruktur merupakan masalah-masalah yang dihadapi kota Malang. Bahkan saat ini Malang merupakan kota termacet ketiga setelah Jakarta dan Bandung. Menurut Wawan, siapapun calon yang terpilih nantinya harus mencarikan jalan keluar terhadap masalah-masalah tersebut.

Tidak hanya itu, pembukaan jalan tol Malang-Surabaya pada tahun 2019 juga menjadi masalah baru bagi kota Malang. "Malang jangan sampai jadi seperti kota Bandung yang menjadi sangat macet pasca dibukanya akses tol langsung dari Jakarta," tambahnya.

Ia menghimbau masyarakat untuk memilih pemimpin yang tidak sekedar punya visi pembangunan yang bagus, tetapi juga lihatlah rekam jejak integritasnya. "Untuk pemilu, harapan saya terhadap masyarakat kota Malang sangat sederhana. Jadilah pemilih kritis. Pemimpin juga harus bisa bernegosiasi dan berargumen dengan wakil rakyat, bukan hanya menuruti semua keinginan wakil rakyat", tutupnya. [Lita/Humas FISIP/Humas UB]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID