Prasetya Online

>

Berita UB

Dirjen Ali Ghufron Mukti: Kampus Butuh Pemimpin Akademik

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh denok pada 11 Desember 2017 | Komentar : 0 | Dilihat : 544

Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., PhD
Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., PhD
Universitas Brawijaya (UB) merupakan salah satu perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki gagasan untuk melahirkan pemimpin masa depan. Upaya tersebut bisa ditempuh di antaranya melalui sekolah kepemimpinan. Hal ini disampaikan Dirjen Sumber Daya Iptek Kemenristek Dikti Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc, PhD dalam Focus Group Discussion "Tata Kelola dan Kepemimpinan Perguruan Tinggi". Kegiatan ini diselenggarakan Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Penjaminan Mutu (LP3M) UB pada Senin (11/12/2017). Ia menambahkan, hal tersebut merupakan bagian dari upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan menyediakan sumber daya iptek.

"Di era supremasi sipil seperti saat ini, kampus membutuhkan pemimpin akademik," kata Ali Ghufron yang juga Ketua Dewan Pengawas UB. Secara sederhana, pemimpin akademik adalah kepemimpinan di institusi akademik. Namun lebih dari itu, pemimpin akademik adalah seseorang yang memiliki kemampuan dalam pengembangan keilmuan. "Dengan kemampuan ini ia bisa memprediksi masa depan dan memiliki pengikut melalui sekolah pemikiran/school of thoughts," kata dosen FK UGM ini. Kemampuan untuk memahami masa depan membutuhkan strategi dan wawasan luas. Hal ini ditandaskannya untuk menyongsong Indonesia emas pada 2045. Sebagaimana diprediksi Price Water House Coopers, bahwa pada masa itu, Indonesia akan menjadi negara dengan perekonomian terbesar keempat di dunia.

Lebih jauh, Ali Ghufron menyinggung fenomena di kampus saat ini dimana dosen lebih banyak di jabatan struktural. Hal ini mengimbas pada kurangnya kinerja akademik. Selain itu, ia juga menangkap fenomena kerasnya pemilihan Rektor dan pemilihan Dekan di kampus. "Pemilihan Rektor dan Dekan bisa sangat keras. Yang tidak mendukung bisa saja disingkirkan," ungkapnya. Padahal perguruan tinggi mempunyai fungsi sebagai agen pendidikan, agen penelitian dan agen perkembangan budaya. Untuk itu, ia menekankan pentingnya sebuah visi bersama dengan indikator kinerja yang terukur. "Di Australia, perguruan tinggi dituntut mampu mendatangkan devisa. Saat ini kampus berkontribusi sebagai penyumbang devisa kedua di negara tersebut," katanya.

Terkait UB dengan visinya sebagai perguruan tinggi berkelas dunia, Ali Ghufron mengingatkan pentingnya kepemimpinan, strategi dan kebersamaan. Sebagai PTN berstatus BLU, menurutnya UB perlu lebih meningkatkan produktivitas daripada akses. Misalnya dengan meningkatkan penelitian dan publikasi ilmiah daripada menambah jumlah mahasiswa program sarjana.

Rektor Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri, MS dalam paparannya mengharap FGD ini mampu melahirkan desain pengembangan kepemimpinan akademik baik untuk tenaga kependidikan maupun dosen. Dua hal yang menjadi tantangan dalam kepemimpinan di kampus menurutnya adalah keilmuan dan administrasi.

Pemateri yang juga hadir dalam kesempatan ini adalah Ir. Achmad Wicaksono, M.Eng, PhD dan Prof. Dr. Ir. Suhardjono, Dipl.HE, M.Pd. [Denok/Humas UB]

 

 

 

 

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID