Prasetya Online

>

Berita UB

Dialog Lintas Agama di Unibraw

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF Versi Word
Dikirim oleh prasetya1 pada 03 April 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 2278

Dialog merupakan salah satu alternatif dalam menciptakan kooperatif global. Indonesia dengan heterogenitasnya dalam suku, agama dan ras, seharusnya telah selesai membicarakan kekayaan heterogenitas tersebut dan tinggal bagaimana memanfaatkannya dalam berbagai sektor kehidupan selaras dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika.
Seiring dengan berhembusnya angin demokrasi di satu sisi menambah kesempatan dalam berekspresi dan berimprovisasi tetapi di sisi lain jika kebebasan ini tidak dimaknai sebagai kebebasan dengan menghormati hak dan kewajiban pihak lain, maka akan menghasilkan kesalahpahaman yang bisa meng-akibatkan disintegrasi. Realita di lapangan yang terjadi banyak sekali konflik antaretnis serta antaragama, sehingga dari sini eksistensi dan pemahaman akan Bhinneka Tunggal Ika perlu dikonstruksi kembali.
Atas dasar hal tersebut, bertempat  di Sasana Samanta Krida Universitas Brawijaya, Minggu 3/4, diadakan dialog lintas agama Islam dan Kristen. Acara ini terselenggara berkat kerjasama Forum Kajian Islam dan Masyarakat (Forkim) Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya dengan Arimatea.
Tema yang diangkat dalam kesempatan tersebut adalah "Mem-pertanyakan Keabsahan Al Qur'an dan Al Kitab Injil sebagai Wahyu Tuhan, Tekstual Kitab dan Sudut Pandang Ilmiah atau Empiris". Hadir sebagai pembicara dari pihak Kristen adalah Pdt. Stevry Lumintang, Pdt. Kahar Hadiwinoto M.Div, dan EV. Erickson M.Div. Sedangkan pembicara dari pihak Islam adalah KH Sholihah MS, Maria Anastasia, dan Ust. Arifin Nababan Lc.
Dialog berlangsung dengan tetap menghargai dan berangkat dari perbedaan masing-masing secara obyektif, sehingga audiens berkesempatan langsung untuk menjustifikasi. Pada acara tersebut, Sasana Samantha Krida dipenuhi oleh pemeluk kedua agama.
Beberapa substansi yang dipertanyakan kepada pemateri Kristen dari Injil di antaranya adalah tentang keotentikan dan origi-nalitas isi dari Injil itu sendiri mengingat berbagai perombakan dan perubahan bahasa yang dialaminya.
Sementara kepada pihak Islam dipertanyakan kepedulian sosial umat Islam terhadap kasus Aceh terkait dengan klaim bahwa Islam adalah "rahmat bagi seluruh alam".
Dalam acara tersebut terlihat bagaimana masing-masing pe-meluk agama bisa menghargai berbagai perbedaan yang ada di antara mereka, terbukti dengan acara dialog yang berhasil terselenggara secara damai dan santun siang hari itu. [nok]

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID