Prasetya Online

>

Berita UB

Delegasi Opole University Berikan Tips Penulisan Akademik

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh prasetyafisip pada 13 April 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 403

Stankomir Nicieja, Ph.D
Stankomir Nicieja, Ph.D
Mahasiswa pasti sering bermasalah dengan tugas-tugas perkuliahan berupa tulisan. Apalagi syarat kelulusan adalah skripsi. Tidak hanya skripsi, tetapi kemampuan menulis akademik juga diuji dalam membuat laporan magang dan karya tulis ilmiah, jurnal, artikel ilmiah, laporan penelitian, dan lain sebagainya. Penulisan akademik digunakan dalam mempersiapkan, membuat, dan mengubah teks akademik.

Stankomir Nicieja, Ph.D, Delegasi Opole University dalam kuliah tamu yang diadakan Selasa, (03/04/2018) di Ruang Sidang lantai 7B mengatakan teknik penulisan akademik memiliki audiens yang lebih khusus seperti dosen, reviewer, dan orang lain yang terkait dengan tulisan tersebut. Sehingga sulit dibuat karena dibaca oleh orang-orang yang ahli dibidangnya dan kemampuan linguistic sangat diuji dalam penulisan ini.

Teks akademik harus mampu menguraikan dengan jelas dan objektif. "Penggunaan bahasa yang baik dan benar juga harus diterapkan dalam teks akademik," lanjut Stankomir.

Penggunaan bahasa harus memakai istilah khusus untuk mendeskripsikan kata yang khusus, menggunakan bahasa formal, menghindari bahasa informal, hal yang berunsur vulgar, seksis, dan rasis, serta meghindari penggunaan lelucon karena hal ini hanya akan membuat orang tidak percaya dengan teks akademik yang dibuat.

Asisten profesor dari Opole University juga menjelaskan bahwa teks akademik harus dilengkapi dengan argumen yang bagus. Argumen bagus tersebut didapat dari observation, reasoning, dan research.

Argumen harus memiliki bukti dan bersifat objektif, bukan dari gagasan atau keyakinan penulis. Cara yang dapat dilakukan untuk menulis teks akademik adalah menguraikan masalah dengan pertanyaan, memeriksa kajian terkini, melakukan brainstorming, mengumpulkan bahan, mengorganisir, merencanakan, mulai menulis, dan terakhir adalah evaluasi dengan mengubah dan menulis kembali.

Stankomir juga berpesan agar mahasiswa yang ingin menulis dengan Bahasa Inggris tidak terpaku pada sulitnya menulis menggunakan Bahasa Inggris.

"Tulis saja dengan bahasa asli kalian, kemudian baru terjemahkan," kata Stankomir. [Charisma/Humas FISIP/Humas UB]

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID