Prasetya Online

>

Berita UB

Butet Kartaradjasa di Unibraw

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF Versi Word
Dikirim oleh prasetya1 pada 16 Maret 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 2439

Butet Kartaradjasa
Butet Kartaradjasa
Sebagai rangkaian acara Pekan Budaya yang diadakan oleh Program Studi Bahasa dan Sastra Universitas Brawijaya, pada hari Rabu (16/1) pihak panitia menghadirkan Butet Kartaradjasa, budayawan asal Yogyakarta. Pada kesempatan ini, Butet tampil untuk bermonolog di Widyaloka Universitas Brawijaya tanpa ditemani kelompok teatrikalnya, Sinten Remen.
Sebelum melakukan monolog, ia memberikan kesempatan kepada para penggemarnya untuk berdialog pada siang harinya di Ruang Kuliah Program Bahasa dan Sastra Universitas Brawijaya.
Dalam acara dialog, Butet didampingi oleh Ketua Program Studi Bahasa, Ketua BEM Bahasa dan Sastra, staf pengajar Program Bahasa dan Sastra (Bastra) Yusri, serta Teng Su budayawan asal Malang. Dalam kesempatan tersebut Butet memaparkan perjalanan panjangnya dalam dunia seni teater yang juga digeluti bersama adiknya, Djadug. Putera seniman tari dan pelukis kenamaan, Bagong Kusudiardjo ini mengaku telah menggeluti seni teater sejak 1978. Perjalanan selama kurun waktu 20 tahun, tepatnya selama kemerdekaan berekspresi menyampaikan pendapat dan pemikiran mati suri adalah perjalanan yang sangat sulit dan melelahkan. Kemudian ketika tahun 1998 dimana kran demokrasi melalui gerakan reformasi mulai digulirkan, perjuangannya untuk membela kaum tertindas dan melawan kaum tirani melalui seni teater mulai bersemi dan berbuah kesuksesan seperti saat ini.
Ditambahkannya, bahwa perjalanan tersebut adalah sebuah proses yang akan menghasilkan generasi yang matang dan akan berbeda degan fenomena "instant" yang ada saat ini melalui AFI ataupun "Indonesia Idol" yang menghasilkan generasi "karbitan" dan terkooptasi kebebasannya. Di akhir dialog, diungkapkannya bahwa sebagai kepala keluarga, Butet sadar akan kewajiban pribadinya, sehingga ia tidak sepakat dengan seniman yang mengabaikan kewajiban asasinya dengan prinsip "seni adalah segalanya karena seniman bukan dewa". Di usia yang sudah uzur ditambah perannya sebagai kepala keluarga Butet mengaku lebih realistis menjalani hidup tetapi ia respect dengan seniman-seniman yang militan terutama generasi mudanya. Respect Butet disalurkannya melalui pembinaan terhadap generasi penerus militansi seni.
Acara monolog dimulai sekitar pukul 19.30. Gedung Widyaloka pada saat itu penuh oleh penonton, bahkan membludak mencapai ribuan dan memenuhi tribun sehingga panitia terpaksa mengunci pintu luar karena kapasitas gedung sudah tidak muat. Acara diawali dengan dramatisasi puisi oleh mahasiswa Bahasa dan Sastra dengan membawakan judul "Pernikahan Pertiwi" yang dilanjutkan dengan pementasan monolog Butet berjudul "Satu Nusa Satu Jenaka" karya Agus Noor. Karya ini pernah dipentaskan dua kali di Wina Austria dan di Belgia bersama adiknya, Djadhug.
Satu Nusa Satu Jenaka mengisahkan tentang seorang manusia yang mendambakan eksistensi dan penghargaan terhadap "sumbangsih dan jasa" yang pernah dilakukan terhadap bangsa dan negara. Manusia yang telah memasuki usia senja itu bernama Den Mas Wondo yang hidup ditemani dengan seorang pembantu bernama Bejo. [nok]

Pilihan Hidup
Menjadi terkenal seperti sekarang ini, Butet Kartaredjasa butuh perjuangan dan waktu panjang. Pria yang menggeluti teater sejak 1978 mengaku memutuskan menjalani pilihan hidupnya, berteater, perlu perjuangan berat."Butuh stamina tinggi merawat pilihan hidup," kata Butet Kartaredjasa dalam dialog budaya dengan mahasiswa sastra di Unibraw, Rabu (16/3) siang.
la senang juga heran melihat antusiasme mahasiswa sastra yang juga tertarik pada teater. "lni pasti abnormal. Soalnya kalau memutuskan kuliah pilih jurusan yang cepet sugih, misalnya jadi dokter atau di ekonomi. Pasti kenthir," kata Butet disambut tawa mahasiswa. Menurut Butet, jika nekat menekuni bidang yang sepi/kosong ini, butuh proses panjang, sehingga akhirnya bisa memberi hasil secara ekonomis.
Dikisahkan pria Jogja ini, ada tenggang 20 tahun (1978-1998) di mana orang mungkin tidak banyak yang tahu prosesnya, sehingga bisa jadi seperti sekarang. Seperti juga bagaimana orang mengenal sosok Arief Suditomo (presenter berita TV) atau kiprah Nano/Ratna Riantiarno (teater). Seperti pernah melakoni pementasan tidak ada yang nonton atau hanya ditonton kawan sendiri. "Gratisan lagi. Sampai akhirnya ada yang mengapresiasi, dapat sponsor dan akhirnya bisa menghasilkan secara ekonomi," papar Butet.
Menurutnya, jika setia apa yang disebut sebagai proses, ia yakin rahmat Tuhan pasti ada. "Apalagi kalau ingin terkenal, masuk TV dengan main sinetron. Butuh proses panjang agar bisa dipakai jasa industri TV," pungkas Butet. [vie] SURYA, Kamis 17 Maret 2005

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID