Prasetya Online

>

Berita UB

Bisnis Property Peluang Emas Bagi Mahasiswa

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh oky_dian pada 20 September 2017 | Komentar : 0 | Dilihat : 383

Vice President Business Deputy Regional Manager PT BTN Reinhard Harianja bersama pembicara dalam seminar bisnis property
Vice President Business Deputy Regional Manager PT BTN Reinhard Harianja bersama pembicara dalam seminar bisnis property
Bisnis Property saat ini merupakan peluang emas bagi mahasiswa ataupun lulusan perguruan tinggi. Demikian pesan yang ingin disampaikan dalam Pelatihan Literasi Properti 10.000 young entrepreneur in property kerjasama Bank Tabungan Negara (BTN) dan Univerisitas Brawijaya (UB), Rabu (20/09/2017).

Rektor UB Prof. Bisri mengatakan bahwa usaha bisnis saat ini paling menjanjikan selain bidang IT adalah bidang property.

"Penghasilan saya selain dari dosen ya dari menjadi developer. Ini merupakan bisnis yang menjanjikan bahkan saat ini saya sudah mendidik anak saya untuk menjadi developer padahal dia adalah lulusan teknik elektro," katanya.

Sebagai pemula dalam bisnis property, Ketua DPP Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia Endang Kawijaya mengatakan, mahasiswa atau alumni perguruan tinggi bisa mencoba berbisnis property Rumah Bersubsidi.

"Bagi sebagian orang rumah sederhana itu ibarat nasi. Jadi kalau sudah ada nasi maka kita bisa tenang," kata Endang.

Ada tiga potensi pasar yang ditawarkan bagi wirausaha di bidang properti, yaitu pertama pekerja berpenghasilan tetap/formal dan berkecukupan pendapatan, kedua pekerja informal, dan ketiga pekerja berpenghasilan tetap namun rendah (UMR).

Endang menjelaskan untuk tahun 2017 hanya kelompok sasaran A yang terakomodir saat ini sampai dengan 210 ribu unit, kelompok sasaran B hanya sekitar lima persen atau 10 ribu unit padahal potensinya minimal sama dengan kelompok A, kelompok C saat ini belum terlayani sehingga memerlukan terobosan dengan mensinergikannya dengan program rumah swadaya.

Disamping potensi, ternyata ada banyak tantangan dan kesulitan dalam berbisnis properti rumah subsidi, mulai dari lahan, perizinan, hingga lingkungan.

Dari segi lahan, mencari harga tanah yang maksimal Rp 200 ribu per meter persegi mulai sulit dengan tingkat akses yang memadai hingga banyak lahan sengketa atau banjir yang menggiurkan mata. Pada segi perizinan antara lain banyak pejabat teras yang memasang tarif sama dengan perumahan komersil dan dari segi lingkungan terkadang dalam pembebasan menemukan "rintangan" akibat ketersinggungan tokoh setempat terkait biaya pembebasan.

Sementara itu, Kepala Divisi Housing Finance Center BTN Reinhard Harianja mengatakan untuk berkecimpung di bisnis property ada empat konsep atau LCLS yang harus dipahami yaitu Land, Capital, Legality dan Skill.

L adalah bagaimana mengakses lahan yang akan digunakan, C adalah seberapa banyak modal yang digunakan, L terkait bagaimana mengurus perijinannya supaya cepat dikembangkan dan S adalah memiliki kemampuan seperti memahami laporan keuangan, cash flow, dan kemampuan menjual.

Seminar 10.000 young entrepreneur in property diharapkan bisa mendidik mahasiswa UB untuk menjadi pencipta lapangan pekerjaan bukan pencari pekerja. [Oky Dian/Humas UB]

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID