Prasetya Online

>

Berita UB

Bedah Buku Suluk Malang Sungsang: Konflik dan Penyimpangan Ajaran Syaikh Siti Jenar

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF Versi Word
Dikirim oleh prasetya1 pada 15 Maret 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 5791

Sebagai rangkaian acara Pekan Budaya yang diadakan oleh Program Bahasa dan Sastra Universitas Brawijaya, pada Selasa (15/3) bertempat di Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya diselenggarakan acara Bedah Buku Suluk Malang Sungsang: Konflik dan Penyimpangan Ajaran Syaikh Siti Jenar. Tujuh jilid buku Syaikh Siti Jenar ini ditulis oleh Agus Sunyoto dengan metode penulisan secara kualitatif, dengan penerbit LKIS. Agus Sunyoto memiliki latar belakang pendidikan sarjana seni rupa dan magister pendidikan sosial. Turut diundang sebagai pembanding dalam bedah buku kali ini adalah Dra. Sugiarti M.Si yang memiliki latar belakang pendidikan sarjana pada Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Jember kemudian melanjutkan program magister Sosiologi di UMM. Sugiarti adalah staf pengajar UMM.
Dalam pemaparannya, Agus Sunyoto mengungkapkan bahwa dalam mitos masyarakat Jawa telah tertanam mainstream pemikiran bahwa Syaikh Siti Jenar adalah cacing yang menjelma menjadi manusia mengajarkan ajaran sesat, kemudian diadili oleh Walisongo dan meninggal menjadi anjing. Menurutnya, Syaikh Siti Jenar berasal dari Cirebon yaitu daerah Selatan, tepatnya Lemah Abang. Sehingga dengan latar belakang tersebut ia tidak banyak mengambil rujukan dari babad tanah Jawa melainkan dengan melakukan pendekatan historiografi orang-orang Cirebon terutama Pangeran Wongsokerto. Pendiskreditan Syaikh Siti Jenar menurutnya berasal dari kalangan gusti (keraton) karena Syaikh Siti Jenar pada waktu itu mempelopori perubahan tatanan sosial yang ada di masyarakat. Dalam kesempatan tersebut secara implisit ia mengatakan bahwa tujuan penulisan buku ini adalah rekonstruksi sejarah dengan ilustrasi implementatif menembus dimensi waktu kekinian, sebuah tawaran bahwa Syaikh Siti Jenar adalah pembaharu yang mendobrak dunia patriarkhi pada waktu itu.
Dalam penulisannya ia banyak menggali inspirasi penulisan dari literatur dan pendekatan wawancara sehingga disampikannya bahwa novel ini adalah novel pertama yang dilengkapi dengan kajian pustaka dan diterbitkan langsung 7 jilid. Sementara itu, Dra Sugiarti MSi dalam pemaparannya menyampaikan bahwa buku ini lebih tepat dikatakan sebagai novel sejarah yang memberikan sebuah tawaran baru bagi masyarakat khususnya generasi muda agar terketuk untuk memiliki semangat sebagai pembaharu dalam peradaban masyarakat. [nok]

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID