Prasetya Online

>

Berita UB

Bantuan Kemanusiaan UB Sudah Tersalurkan ke Pengungsi Suriah

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh denok pada 13 Juli 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 332

Bantuan alat kecantikan dan mesin jahit untuk sekolah vokasi ddi kamp pengungsi Suriah
Bantuan alat kecantikan dan mesin jahit untuk sekolah vokasi ddi kamp pengungsi Suriah
Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Yordania, Andi Rachmianto, menyerahkan bantuan kemanusiaan dari Universitas Brawijaya (UB) kepada UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugee). Bantuan tersebut diperuntukkan bagi pengungsi Suriah yang tinggal di kamp pengungsi. Dalam bentuk keperluan dan alat-alat kecantikan serta mesin jahit, bantuan akan digunakan sebagai bahan ajar di sekolah kecantikan yang ada di kawasan kamp pengungsi Suriah.

Staf Ahli Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan dan Kerjasama Maulina Pia Wulandari, PhD menyampaikan bantuan kemanusiaan UB merupakan wujud kepedulian terhadap masalah kemanusiaan dan perdamaian dunia yang sedang terjadi seperti di Suriah. "Bantuan yang diberikan di kamp pengungsi Suriah berkonsentrasi untuk membantu pemberdayaan masyarakat terutama mereka yang sedang mengalami masalah dengan kemanusiaan," ungkap dosen Ilmu Komunikasi tersebut. Ia menambahkan, bantuan kemanusiaan UB direncanakan akan menjadi kegiatan tahunan. "Rektor bersama WR IV sedang menyusun perencanaan program kemanusiaan UB 4 (empat) tahun ke depan," kata Pia.

Penyerahan bantuan UB kepada pengungsi Suriah melalui UNHCR
Penyerahan bantuan UB kepada pengungsi Suriah melalui UNHCR
Bentuk bantuan UB, dikatakan Pia tergantung pada apa yang dibutuhkan. Ia menyampaikan ada alokasi dana untuk pemenuhan kebutuhan pengungsi seperti seragam sekolah, program pelatihan dan beasiswa.

Diwawancarai di ruang kerjanya, Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan dan Kerjasama Dr. Ir. Muhammad Sasmito Djati, MS menyebut beasiswa Munir Award yang diberikan kepada pemuda pemudi Palestina. Pemberian nama Munir menurutnya terinspirasi dari alumni Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (FH UB), Munir, yang merupakan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM).

Tahap pertama Munir Award diberikan kepada pemuda pemudi Palestina yang memilih tetap tinggal di sana untuk memperjuangkan hak asasi mereka dalam bentuk pendidikan. Penerima beasiswa ini harus memenuhi syarat beraktivitas sebagai Pegawai Negeri Sipil di Palestina. "Karena kalau pegawai negeri mereka diharuskan untuk kembali ke negara asalnya," kata dosen biologi ini.

Sasmito menambahkan, mereka dididik di Indonesia, khususnya UB pada semua fakultas. Dengan belajar di Indonesia, harapannya mereka bisa mengetahui kehidupan dalam keragaman tinggi dan tetap damai. Di antaranya, WR IV menyebut keragaman agama dan madzhab. "Pesan ini perlu disampaikan disamping mereka belajar sains dan teknologi," kata dia. Selain itu mereka juga mempelajari Bahasa dan budaya Indonesia.

Tahap pertama pemberian beasiswa ini terpilih enam penerima dari puluhan pelamar. "Seleksinya tentu saja tergantung anggaran yang tersedia," ungkap Sasmito. Dari penilaiannya, ia optimis mahasiswa Palestina yang mempunyai daya juang tinggi akan mampu menyelesaikan kuliahnya dengan baik. Keenam mahasiswa tersebut tersebar pada program magister dan doktoral, di antaranya Fakultas Ilmu Komputer, Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta Fakultas Ilmu Administrasi.

Munir Award merupakan beasiswa penuh yang meliputi biaya kuliah, biaya hidup, dan tanggungan keluarga. Para alumni peraih beasiswa ini diharapkan bisa kembali ke negara asalnya dengan penguasaan sains dan teknologi serta mengemban misi perdamaian melalui pendidikan plural yang diterapkan di Indonesia.

Bantuan kemanusiaan UB menurut rencana akan dikembangkan ke negara-negara lain yang sedang mengalami krisis kemanusiaan seperti Mongolia dan Rohingya di Myanmar. Hasil-hasil penelitian sivitas akademika UB disampaikan Sasmito juga akan dimasukkan dalam bantuan tersebut seperti minyak atsiri, kosmetika dan vaksin. [Denok/Humas UB]

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID