Prasetya Online

>

Berita UB

Arel Manta Tarigan, Anak Gunung Sinabung

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh prasetyaFT pada 12 Desember 2017 | Komentar : 0 | Dilihat : 812

Arel Manta Tarigan
Arel Manta Tarigan
Arel Manta Tarigan, lulusan Teknik Mesin angkatan 2013 dengan predikat cumlaude, adalah salah satu mahasiswa peraih beasiswa bidik misi yang berprestasi. Selama menempuh pendidikannya di Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Arel Manta aktif dalam beberapa organisasi dan kegiatan. Mulai dari General Manager tim Apatte 62 Brawijaya, anggota divisi otomasi dan robotika Himpunan Mahasiswa Mesin, hingga asisten dosen selama 3 tahun.

Tak hanya itu ia juga aktif mengikuti beberpa kompetisi internasional dan nasional. Bersama Tim Apatte 62 Brawijaya ia berhasil menjadi juara umum Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) 2015 hingga menjadi finalis Shell Eco Marathon Asia di Philippine (2016) dan Singapore (2017) dan banyak medali emas dari dalam maupun luar negeri.

Siapa sangka di balik capaian itu, ada cerita yang tak kalah menginsiprasinya. Arel, anak pengungsi Gunung Sinabung ini tidak menjadikan keadaan kampung halamannya yang di landa musibah (erupsi Gunung Sinabung) menjadi keterbatasan dalam mencapai cita citanya.

Orang tua yang awalnya usaha jual pupuk dan petani jeruk Berastagi harus vakum karena aktivitas gunung sinabung. “Karna bencana ini, usaha orang tua saya vakum. Jadi orang tua cuma bisa hidup dari uang tabungan. Karena itu saya cari cara bagaimana caranya bisa meringankan beban orang tua untuk biaya kuliah, masih ada tanggungan 2 adik lagi yang satunya kuliah, yang satunya smp,” ujarnya.

Sebagai sulung dari 3 bersaudara Arel tak patah semangat. Ia bertekat untuk mandiri dalam melanjutkan studinya. Arel yang di kenal pekerja keras dan super sibuk oleh teman kuliahnya ini mengusahakan supaya mendapat beasiswa.

“Awalnya saya ke dekanat mencari informasi beasiswa, melihat saya kebingungan, Pak Suryawan di bagian Kemahiswaan bertanya kepada saya. Kemudian saya jelaskan keadaan dan tujuan saya. Subhanallah, Allahuakbar, kebetulan di hari itu Pak Suryawan juga sedang  mencari mahasiswa penerima Pengganti Bidikmisi,” kenangnya.

Arel sangat bersyukur akan hal itu, begitu banyak nikmat  yang diberikan secara berturut turut. Mulai dari diterima di Universitas Brawijaya, bertemu sahabat yang baik di malang, diterima sebagai asisten, memenangkan lomba nasional membawa UB menjadi nomor 1, pergi keluar negeri mewakili UB, bahkan sampe sekarang dia bisa menyelesaikan kuliahnya sebelum genap 4 tahun dengan predikat cumlaude.

“Saya sangat bersyukur, tidak pernah terbayang akan seperti ini. Dari SD sampai SMP, untuk sekolah saja saya harus berjalan 3 km keluar dari desa begitu juga pulangnya. Pulang sekolah saya tidak langsung ke rumah, saya berhenti di ladang untuk membantu orang tua di kebun yang letaknya diantara sekolah dan rumah. Belum lagi saya harus mencari makanan 15 kambing saya sebelum pulang kerumah,” tuturnya.

Baginya sukses itu tidak hanya melihat siapa kamu sekarang, tapi dari mana memulainya dan jadi apa dirimu sekarang. Karena butuh usaha lebih mengangkat beban dari ketinggian 1 ke ketinggian 6 dibandingkan dari ketinggian 4 ke ketinggian 7.

“Yang terpenting adalah tetap bersyukur, karena tanpa kita sadari nikmat itu banyak bentuknya. Arel Manta golden ways,” pesannya sambil tertawa. [PSIK FT/Humas UB]

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID