Mahasiswa FP UB Temukan Bakteri Pengendali Layu Fusarium

dari kiri : Claudya Santa Clara Simanjuntak, Meila Millatie Fithri dan Theresia Rani Kartika

Tiga mahasiswa Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang (FP UB) melalui kajian artikel ilmiah menemukan solusi mengatasi permasalahan petani dalam menghadapi penyakit layu fusarium atau disebut dengan moler pada bawang merah. Tiga mahasiswa tersebut adalah Claudya Santa Clara Simanjuntak, Meila Millatie Fithri dan Theresia Rani Kartika dengan dosen pembimbing Restu Ryzkita Kusuma, SP., MP., M.Sc

Bawang merah merupakan komoditas pokok bagi masyarakat saat ini, sehingga produksi bawang merah harus ditingkatkan. Namun produksi bawang merah yang bersifat musiman mengakibatkan tidak stabilnya produksi setiap bulannya, hal itu disebabkan karena beberapa faktor yang mengakibatkan, salah satunya yaitu serangan penyakit pada tanaman bawang merah oleh patogen Fusarium oxyosporum yang mengakibatkan penyakit layu Fusarium. Serangan penyakit ini menyebabkan kehilangan hasil sampai 50 persen. Gejala yang ditimbulkan dari penyakit ini yaitu pembusukan akar, daun terpilin dan perubahan warna menjadi kuning hingga nekrosis pada umbi, serta mengakibatkan gagal panen.

Berdasarkan artikel imilah yang telah dikaji, terdapat beberapa bakteri yang berpotensi mengendalikan penyakit layu fusarium yaitu  bakteri Bacillus sp, Pseudomonas flourescens dan Serratia marcescens, selain itu bakteri ini juga dapat meningkatkan produksi bawang merah melalui senyawa antibiotika 2,4 – diasetilfloroglusinol (Phl) dan memproduksi IAA, siderofor, pelarut P, enzim lipase dan protease.

Pendekatan pengendalian yang ramah lingkungan untuk menekan penyakit layu Fusarium pada tanaman bawang merah salah satunya melalui pendekatan Pengelolaan Hama Terpadu (PHT). Sistem pertanian dengan prinsip PHT merupakan konsepsi pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dengan memadukan beberapa cara pengendalian yang lebih mengutamakan peran agroekosistem untuk menciptakan Pertanian Berlanjut.

Hal ini sesuai dengan Misi Kementerin Pertanian Nomor 22 tahun 2019 berdasarkan RENSTRA (2015), yaitu ‘’Mewujudkan sistem budidaya Pertanian Berkelanjutan’’. Salah satu prinsip PHT adalah dengan memanfaatkan musuh alami untuk pengendalian OPT. Musuh alami dapat dimanfaatkan dari seleksi bakteri yang bermanfaat untuk mengendalikan patogen tanaman.

Mikroba banyak didapatkan pada lahan pertanian organik, karena bahan organik yang terdapat pada tanah memberikan sejumlah nutrisi tanaman dan menyediakan kondisi yang optimal untuk berbagai mikroba termasuk yang bersifat antagonis. “Sehingga perlu dilakukan eksplorasi bakteri antagonis pada daerah perakaran (rizosfer) maupun di dalam jaringan tanaman (endofit) tanaman bawang merah organik untuk menemukan bakteri antagonis yang berpotensi untuk pengendali penyakit layu Fusarium,‘’ kata Claudya.

Pengendalian penyakit yang sering dilakukan oleh petani untuk menekan penyakit layu Fusarium adalah dengan penggunaan pestisida. Tindakan pengendalian dengan cara penggunaan pestisida yang tidak bijaksana dan intensif dapat menimbulkan dampak negatif yang merugikan antara lain terjadinya pencemaran lingkungan, terbunuhnya musuh alami dan organisme non target, terjadinya resistensi dan resurgensi hama serta berbahaya bagi kesehatan manusia.[sr]