Australian Catholic University Kunjungi UB, Berbagi Pengalaman tentang Layanan Disabilitas

Mahasiswa ACU belajar bahasa isyarat bersama teman-teman Tuli
Mahasiswa ACU belajar bahasa isyarat bersama teman-teman Tuli

Rombongan Australian Catholic University (ACU) mengunjungi Subdirektorat Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya, Kamis (30/11/2023). Rombongan ini berkunjung ke SLD UB setelah sebelumnya sempat melakukan studi ekskursi ke Fakultas Hukum UB. Kehadiran rombongan ACU ke Universitas Brawijaya merupakan bagian dari agenda mereka dalam program Colombo Plan. Program tersebut secara rutin didanai pemerintah Australia.

Selama kunjungan, ACU dan SLD UB berbagi pengalaman terkait layanan disabililtas di perguruan tinggi. Topik pembicaraan selama sharing pengalaman tersebut berkisar di antara layanan akademik di kampus, kebijakan di berbagai tingkat pengambilan kebijakan, hingga bagaimana masing-masing kampus mengatasi hambatan-hambatan pada jalannya layanan.

Ketua Subdirektorat Layanan Disabilitas UB, Zubaidah Ningsih AS., Ph.D mengatakan bahwa dukungan pemangku kebijakan di tingkat kampus sangat mempengaruhi eksistensi layanan disabilitas.

“Kita menghadapi banyak tantangan layanan disabilitas, di berbagai sektor, bahkan di lingkup kampus yang relatif masih bisa dikoordinasikan. Dukungan pemangku kebijakan sangat penting untuk itu,” ucapnya dalam presentasinya di depan mahasiswa dan profesor ACU.

Perwakilan ACU, Profesor Patrick Keyzer yang menemani rombongan mahasiswa ACU, mengamini pernyataan Zubaidah. Menurutnya, di kampus-kampus di Australia juga demikian adanya, layanan disabilitas membutuhkan dorongan struktural dalam penyelenggaraannya.

“Secara nasional kita punya NDIS (National Disability Insurance Scheme) dan kebijakan lainnya, di kampus-kampus (di Australia, red) juga begitu. Kalau tidak dari atas dan bawah sekaligus, layanan disabilitas tidak bisa sepenuhnya berjalan,” kata Patrick.

Ketua SLD UB, Zubaidah Ningsih AS., Ph.D., menambahkan bahwa meskipun UB telah menjadi rujukan kampus-kampus lain di Indonesia dalam hal layanan disabilitas, menurutnya masih ada banyak pembenahan yang terus dilakukan untuk memaksimalkan layanan.

“Bukan tanpa celah, masih banyak tugas yang harus kita selesaikan, baik dalam hal kebijakan hingga praktiknya. Salah satu contohnya dalam hal teknologi bantu, ini perlu terus dikembangkan di sini,” katanya.

Perwakilan mahasiswa penyandang disabilitas di Rumah Layanan Disabilitas UB turut menyambut kehadiran rombongan dari ACU. Mereka sangat antusias dengan kunjungan dari Australia tersebut dan banyak berdiskusi terkait pengalaman selama kegiatan akademik.

Fathurrahman Rijal, mahasiswa Desain Komunikasi Visual Vokasi UB, bercerita bagaimana ia menjalani kegiatan akademik di kampus.

“Saya banyak belajar di lingkungan inklusif ya di kampus ini. Dulu saya sekolah di SLB, itu tersegregasi. Di kampus, saya lebih banyak punya teman,” isyaratnya yang diterjemahkan oleh Graciella Pranata, volunteer di UB, ke dalam bahasa Inggris agar dapat dipahami perwakilan ACU.

Selain Fathur, ada beberapa mahasiswa difabel juga turut bercerita pengalaman mereka dan ditanggapi oleh perwakilan ACU.

Setelah berlangsung hingga sekitar 3 jam, forum akhirnya harus diakhiri dan dilanjutkan dengan temu akrab secara informasi antara rombongan dengan mahasiswa difabel. Di momen ini, keakraban sangat terasa apalagi ketika rombongan ACU belajar bahasa isyarat bersama teman-teman Tuli dan bercengkerama dengan mahasiswa difabel lainnya.[mahali/sitirahma]