Aprocastile, Sabun Organik Untuk Kulit Sensitif Dari Minyak Sawit

Indonesia merupakan salah satu negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Berdasarkan Badan Pusat Statistik tahun 2019 total proses pemurnian CPO (Crude Palm Oil) yang dihasilkan dari kelapa sawit mencapai 48,42 juta ton dari total luas area 14,60 ha.

Hasil samping dari pengolahan CPO yaitu PFAD (Palm Fatty Acid Distillate) sebesar 2,9052 juta ton. PFAD ini memiliki kandungan FFA yang tinggi sehingga masih berpotensi untuk dimanfaatkan kembali menjadi beberapa jenis produk.

Ketersediaan PFAD yang melimpah ini berpotensi sebagai bahan baku pembuatan produk oleokimia berupa sabun. Selain itu, penggunaan PFAD tidak akan bersaing dengan bahan pangan karena tidak dapat dikonsumsi.

Di sinilah empat mahasiswa Teknik Kimia FTUB melihat kesempatan utuk memanfaatkan PFAD dengan membuat Aprocastile Soap, sabun organik yang aman bagi kulit maupun bagi lingkungan.

“Aprocastile-Soap” Sabun Organik Untuk Kulit Sensitif Dari Minyak SawitInovasi ini dibuat oleh Callista Apta Tunggadewi bersama ketiga rekannya, Terisa Erlinda Dewani, Hilmy Rayhan, dan Muhammad Fahmi Shidiqi.

“Kami memutuskan untuk membuat sabun karena di masa pandemic ini jumlah permintaan sabun meningkat,” tutur Callista selaku Ketua Tim.

Ia melanjutkan, timnya ingin membuat sabun oranik karena beberapa jenis sabun komersial yang sering kita jumpai sebagian besar mengandung bahan-bahan kimia yang berbahaya bagi kulit maupun lingkungan seperti SLS (Sodium Lauryl Sulfate).

SLS cenderung iritatif dan kering pada kulit. Selain itu, limbah dari pemakaiannya mengakibatkan pencemaran lingkungan.

Tentunya keberadaan sabun organik diperlukan karena lebih aman, ramah lingkungan, dan dapat digunakan sebagai antibakteri.

Callista menjelaskan, Aprocastile Soap dibuat dengan mengedepankan kualitas dan mutu yang baik serta sesuai dengan ketentuan Standart Nasional Indonesia (SNI).

Proses pengolahan PFAD yang notabene merupakan limbah pemurnian CPO sangatlah diperhatikan untuk menghilangkan impurities sehingga menjamin produk Aprocastile Soap yang berkualitas.

Aprocastile Soap juga memiliki keunggulan dengan adanya penambahan ekstrak minyak atsiri kemangi sehingga sabun ini memiliki daya antivirus serta antibakteri pada kulit secara efektif.

Selain itu, kandungan gliserin dan cocoDEA pada sabun dapat melembutkan kulit, menjaga kelembapan kulit, meratakan tekstur kulit seperti luka atau bopeng, serta mencegah timbulnya garis-garis halus pada kulit.

Aprocastile Soap ini berbasis bahan alami dan komposisi bahan kimia sangatlah sedikit sehingga aman digunakan untuk semua jenis kulit khususnya kulit sensitif. Selain itu, limbah yang dihasilkan tidak mencemari lingkungan.

Produk Aprocastile yang akan dipasarkan ini tersedia dalam beberapa kemasan yaitu kemasan travel size berukuran 100 ml, kemasan pump berukuran 250 ml, dan juga kemasan pouch berukuran 250 ml sehingga dapat menyesuaikan keinginan pasar.

“Semoga bisnis aprocastile soap ini dapat berkembang baik, dan juga dapat mengatasi persoalan limbah bagi pihak indsutri pemurnian CPO serta tentunya dapat memberikan produk sabun organik yang berkualitas, aman, ramah lingkungan dengan harga yang terjangkau bagi masyarakat,” harap Callista mewakili timnya.

Di bawah bimbingan Dr.Eng. Christina Wahyu Kartikowati, S.T., M.T., tim akan berjuang ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) XXXIV 20201 mendatang.

Good for Skin, Safe for Earth”, Selamat berjuang Tim Aprocastile!! (humasft/Humas UB)