Prasetya Online

>

UB News

Prof Respati Suryanto Drajat: Trauma, Ancaman Manusia

Print version PDF version RTF version Word version
Submit by prasetya1 on January 19, 2009 | Comment(s) : 0 | View : 3443

Trauma sudah menjadi ancaman bahkan ketika manusia pertama kali berjalan di atas bumi. Trauma merupakan masalah kesehatan yang besar di negara berkembang yang jumlahnya meningkat sebanding dengan perkembangan industri dan transportasi. Demikian Prof. Dr. dr. Respati Suryanto Dradjat, SpOT. dalam pidato pengukuhan sebagai Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Senin (19/1).
Prof. Respati
Prof. Respati
Lebih lanjut dalam pidato berjudul "Fenomena The First Hit dan Second Hit pada Ilmu Emergensi Orthopaedi dan Traumatologi sebagai Strategi Penatalaksanaan Pasien" itu Respati mengatakan, trauma dapat mengakibatkan kerusakan tubuh manusia baik secara fisik maupun kimiawi. Kerusakan fisik dapat terjadi mulai dari tingkat selular, jaringan, organisasi maupun sistem pada tubuh manusia berupa kerusakan anatomis, baik disertai atau tidak disertai oleh gangguan fisiologis. Para dokter ortopedi saat ini telah menggunakan sistem skoring untuk membantu dan mempermudah pengambilan keputusan dalam penanganan trauma. Skoring didasarkan atas enam lokasi anatomi tubuh manusia meliputi kepada dan leher, wajah, thorax, abdomen, ekstrimitas dan eksternal. Tingkat trauma diukur dengan skala ordinal meliputi ringan (skor 1), sedang (skor 2), serius (skor 3), berat (skor 4), kritis (skor 5) dan tidak dapat diselamatkan (skor 6).
Trauma, ungkap Respati, merangsang inflamasi melalui rangsangan pembentukan berbagai mediator inflamasi. Trauma awal akan merangsang respon inflamasi yang disebut sebagai hit pertama. Sementara tindakan operasi, dapat menjadi hit kedua dan dapat diikuti oleh hit-hit yang lain. Untuk itu, jika tidak diwaspadai melalui pengaturan waktu dan jenis tindakannya, akan menjadi penyebab timbulnya kegagalan organ pasca operasi. Respon penderita atas trauma tidak sama satu sama lain. Ada faktor genetik yang ikut berperan mempengaruhi respon. Trauma menimbulkan stress, nyeri dan pendarahan yang akan merangsang respon neuroendokrin, neuroimunologi dan respon metabolik. Prioritas awal penatalaksanaan trauma adalah resusitasi untuk mencukupi perfusi dan oksigenasi organ vital. Namun demikian menurut Respati, masih ditemui masalah dalam membuat keputusan pada daerah perbatasan, untuk melakukan primary surgery, damage control ataupun delayed primary surgery. Karenanya, pengetahuan dan penelitian ilmu kedokteran dasar di bidang imunologi khususnya inflamasi, akan memiliki peran utama dalam membantu para ahli bedah membuat keputusan. [nun]

Comments

Send your comment

Use ID