Prasetya Online

>

Berita UB

Sinergisitas Kelembagaan di LKM Unibraw

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF Versi Word
Dikirim oleh prasetya1 pada 09 Maret 2007 | Komentar : 0 | Dilihat : 956

seminar dan rapat kelembagaan di gedung PPI
seminar dan rapat kelembagaan di gedung PPI
Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Universitas Brawijaya, Jumat (9/3), menyelenggarakan seminar dan rapat kelembagaan di gedung PPI. Perwakilan seluruh lembaga kedaulatan mahasiswa (LKM) hadir dalam kesempatan tersebut. Termasuk Eksekutif Mahasiswa (EM), EM Fakultas (EMF), Unit Kegiatan Mahasiswa (Unitas), DPM Fakultas (DPMF), serta Lembaga Otonomi Fakultas (LOF). Tema pertemuan adalah ?Membangun Sinergisitas Kelembagaan LKM Menuju Universitas Brawijaya yang Produktif dan Dinamis?. Diundang sebagai pembicara Pembantu Rektor III, Ir Ainurrasjid MS, dan staf pengajar Fakultas Hukum, Ngesti Dwi Prasetyo SH MHum.
Dito Arif, mahasiswa Administrasi Publik angkatan 2003 yang menjadi panitia pelaksana mengatakan, kegiatan ini merupakan awal pembahasan kelembagaan mahasiswa di Universitas Brawijaya. Ada 2 agenda pokok, yaitu transparansi keuangan dan Pemilwa Raya. Menurut Dito yang juga anggota DPM dari Komisi Hukum dan Undang-Undang, diinginkan adanya transparansi manajemen keuangan yang selama ini tidak mempunyai standar baku. Selain itu, diharapkan terjadi proses penjaringan aspirasi mengenai sistem pelaksanaan Pemilwa Raya bulan Mei mendatang.

Minat menurun
PR III Ainurrasjid dalam paparannya menyatakan prihatin atas penurunan minat pada kelembagaan mahasiswa di Universitas Brawijaya. ?Dari 30 ribu mahasiswa Universitas Brawijaya, yang ikut aktif dalam kegiatan keorganisasian sangat kurang?, ujarnya. Oleh karena itu, melalui kegiatan ini diharapkan dapat ditabulasi berbagai permasalahan yang ada, kemudian dicari solusi bagaimana meningkatkan minat mahasiswa dalam berbagai kegiatan organisasi.
Ainurrasjid menyorot adanya 2 perspektif permasalahan, yaitu mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan (Ormawa) itu sendiri. Faktor kesadaran mahasiswa akan pentingnya kemampuan berorganisasi dinilai masih rendah, di samping mahasiswa lebih memprioritaskan kegiatan akademis semata dan menyepelekan berbagai kegiatan di luar itu. Sementara dari perspektif kelembagaan, Ainurrasjid melihat adanya tumpang tindih kegiatan Ormawa di berbagai tingkatan, baik itu universitas, fakultas maupun jurusan. Secara khusus, Ainurrasjid menyoroti keberadaan organisasi mahasiswa ekstra kampus (OMEK) seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang mewarnai kelembagaan di kampus dan menyebabkan fragmentasi ideologis serta kepentingan. Mengenai ini ditegaskannya, secara administratif PR-III melarang segala bentuk keberadaan OMEK di dalam kampus.

Dinamika
Berbeda dengan PR III, Ngesti Dwi Prasetyo justru mendukung keterlibatan OMEK di dalam kampus. ?OMEK juga merupakan wadah aktualisasi mahasiswa, sehingga dikotomi antara lembaga intra kampus (Ormawa) dengan OMEK merupakan sebuah tindakan diskriminatif?, ujar dosen muda ini. Lebih lanjut dikatakannya, gerakan mahasiswa merupakan sebuah dinamika dengan orientasi profesional di satu sisi, serta setting ekonomi dan politik nasional di sisi lain. Hal ini menjadikan organisasi mahasiswa ibarat bidadari cantik yang menarik dan menantang untuk dipinang. ?Hanya organisasi mahasiswa yang punya idealisme yang tidak gampangan untuk dipinang?, kata dia.
Menjelaskan dinamika gerakan mahasiswa, Ngesti mulai dengan memaparkan sejarah. Reformasi 1998 sebagai bagian dari sejarah, telah mencatat peran mahasiswa secara riil. Ironisnya, sejak saat itu gerakan mahasiswa sendiri semakin berserak dan tidak mampu berkonsolidasi untuk melawan rezim, bahkan memberikan keseimbangan sekalipun terhadap kelompok masyarakat konservatif. Sejak saat itu, organisasi mahasiswa di berbagai universitas di Indonesia mencari jati dirinya. ?Tercatat berbagai organisasi mahasiswa mulai dari UI, ITB, Unair, UGM, dll termasuk Unibraw, berubah dan mencari jati dirinya sendiri di luar konteks senat?, urainya menjelaskan eforia kelembagaan di tubuh mahasiswa. Selain itu, berbagai pembusukan dicatat Ngesti juga pernah terjadi mengiringi gerakan mahasiswa seperti NKK/BKK, serta pembusukan pada satu masa kepemimpinan Ormawa di lingkungan Universitas Brawijaya oleh rezim.
Secara khusus, Ngesti melihat gerakan mahasiswa di Indonesia saat ini memiliki berbagai tantangan serius. Lelaki kelahiran Jombang 29 tahun silam ini memaparkan berbagai kelemahan, mulai dari lemahnya konsolidasi gerakan, lemahnya konsolidasi isu, serta lemahnya konsolidasi intelektual. Kelemahan ini menurutnya diperparah lagi oleh berbagai kesalahan cara pandang di antaranya karakter idealis-romantis-penyedih yang menggejala di kalangan mahasiswa dengan memandang fragmentasi dan polarisasi adalah negatif tanpa mampu memanfaatkan berbagai unsur positif yang ada. Lebih lanjut, Ngesti menyarankan agar  mahasiswa mengambil peran bukan lagi sekedar sebagai pelaku perubahan tetapi lebih pada pengarah perubahan dengan mereposisi kekuatan mahasiswa sebagai kekuatan penyeimbang. Untuk itu, ada 2 formulasi konsolidasi ditawarkan: konsolidasi kultural dan konsolidasi kelembagaan. Dalam konsolidasi kelembagaan, dianggap perlu memperbarui berbagai format sistem rekrutmen, hubungan antar lembaga, konsolidasi serta prioritas agenda kerja. Semuanya dalam kerangka berkeadilan, partisipatif, egaliter, dan konsolidatif. [nok]

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID