Semburan Lumpur, Indikator Mudah Kandungan Hidrokarbon

Dikirim oleh humas3 pada 25 April 2011 | Komentar : 1 | Dilihat : 3391

Arief Rahman (kiri) dan Joko Wiyono (kanan) menjadi pembicara pada kuliah tamu AAPG Student Chapter UB
Arief Rahman (kiri) dan Joko Wiyono (kanan) menjadi pembicara pada kuliah tamu AAPG Student Chapter UB
Mud Volcano
(gunung lumpur) merupakan indikator paling mudah untuk menentukan adanya kandungan hidrokarbon. "Apalagi jika lumpur tersebut sudah menyembur seperti di Sidoarjo, bisa dipastikan hidrokarbon juga menyembur ke permukaan," Joko Wiyono dari Exploration Think Tank Indonesia (ETTI) menyampaikan hal ini saat menjadi pembicara di kuliah tamu, Sabtu (23/4) di Ruang Pertemuan Jurusan Fisika. Kegiatan ini diselenggarakan oleh American Association of Petroleum Geologists (AAPG) Student Chapter Universitas Brawijaya (UB). Hadir juga sebagai pembicara dalam kesempatan tersebut, Arief Rahman dari PT. Hexindo Gemilang Jaya. Keduanya merupakan alumni Geofisika FMIPA Universitas Brawijaya(UB).

Untuk lebih mengenal indikator lainnya dalam petroleum system, dalam paparannya Arief menyampaikan dasar-dasar geologi struktur. Tiga komponen penting yang disampaikannya adalah joint (kekar), fault (patahan/sesar) dan fold (lipatan). Ketiganya merupakan bentuk khusus bebatuan yang merupakan hasil deformasi atau perubahan bentuk karena tekanan (stress).

Dengan mengkombinasikan antara geologi struktur dan petroleum system, geologists serta geophysicists kemudian mengakurasi keberadaan hidrokarbon (minyak dan gas bumi). Berbasis pada lima komponen yang disebutnya sebagai "Pancasila" Geologists dan Geophysicists ia menerangkan bagaimana eksplorasi dilakukan. Kelima komponen tersebut meliputi batuan induk (source rock), reservoir, jebakan (trap) dan batuan penutup (seal/cap rock). Selain bermanfaat dalam dunia perminyakan, pengetahuan ini menurutnya juga penting untuk merunut sejarah geologis sebuah wilayah.

"Sumatera dan Jawa itu dulunya satu pulau yang kemudian terpisah karena adanya pemekaran (spreading)", terangnya. Fenomena lain yang ada di kedua pulau tersebut adalah penunjaman (subduction) yakni tabrakan antara dua lempeng, lempeng Australia dan Eurasia. "Karena densitasnya lebih tinggi, maka lempeng samudera kemudian ter-subduksi, membentuk cairan dan menjadi magma. Hasil dari subduksi ini bisa berupa palung laut ataupun pegunungan berapi. Karena itu di sepanjang pulau Jawa dan Sumatera berjejer pegunungan berapi seperti Gunung Semeru, Gunung Merapi, Gunung Slamet dan Gunung Kerinci.

Fenomena geologis lain terkait tingginya tingkat kebencanaan di Pulau Sumatera adalah banyaknya patahan yang berimplikasi pada tingginya proses geodinamika yang disebut tektonik.

"Patahan ini merupakan pisau bermata dua karena menimbulkan bencana sekaligus berkah", kata Joko. Disebut berkah karena menurutnya patahan merupakan jalur migrasi minyak dari batuan induk ke batuan reservoir ketika membuka. "Semakin banyak patahan akan semakin banyak bencana dan semakin banyak pula minyak yang bermigrasi", kata dia. [nok]

Artikel terkait