Prasetya Online

>

Berita UB

Prof Rasjad Indra: Pendekatan Sosio Kultural untuk Obesitas

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh prasetya1 pada 05 November 2008 | Komentar : 0 | Dilihat : 2461


Obesitas adalah kondisi kelebihan massa jaringan lemak tubuh akibat asupan energi berlebih disbanding penggunaannya. Secara genetik, obesitas dapat disebabkan mutasi monogenik dan poligenik yang banyak terjadi pada manusia.
Tingginya angka obesities sangat erat hubungannya dengan proses modernisasi dan meningkatnya kemakmuran bagi sekelompok masyarakat. Hal itu membawa beberapa konsekuensi negatif berupa penyimpangan pola makan dan aktifitas fisik yang berperan penting terhadap terjadinya obesitas. Demikian ungkap Mochamad Rasjad Indra pada orasi ilmiah yang disampaikannya di depan Rapat Terbuka Senat Universitas Brawijaya 5 November 2008. Indra, demikian pria ini biasa dipanggil oleh rekan sejawatnya, dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang ilmu Faal pada Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Judul orasinya adalah "Obesitas sebagai Dampak Negatif Peradaban dan Masalah Kesehatan di Era Milenium".
Lebih lanjut Indra mengungkapkan obesitas terbukti meningkatkan resiko mordibitas sistem tubuh manusia meliputi kardiovaskular, syaraf, respirasi, musculoskeletal, kulit, gastrointestinal, urogenital, psikologik dan endkrin yang mekanisme dasarnya adalah gangguan metabolik. Namun demikian, tidak semua individu obesitas mengalami gangguan metabolik dan tidak semua penderita gangguan metabolik mengalami obesitas. Indra menambahkan, prevalensi obesitas di seluruh dunia mengalami peningkatan terutama di negara maju seperti Amerika Serikat, Canada, dan sebagian Eropa. Temuan yang mengkhawatirkan juga terjadi di daerah Timur Tengah seperti diantaranya Bahrain, Arab Saudi, dan Mesir. Diperkirakan, 250 juta atau sekitar 7 persen populasi manusia di muka bumi mengalami obesitas dan dua hingga tiga kalinya atau sekitar 14 hingga 21 persennya mengalami kelebihan berat badan (overweight). Di Indonesia sendiri, pravelensi obesitas bervariasi di setiap daerah. Di Papua misalnya, pravelensi obesitas sebanyak 34 persen sementara di Surabaya 30 persen.
Ditambahkan oleh Indra bahwa pada hakikatnya, obesitas merupakan kegagalan manusia dalam memelihara pola hidup sehat. Karenanya, perubahan pola hidup seperti mengendalikan makan dan aktivitas fisik sangat dianjurkan untuk mengurangi obesitas. Dalam hal pengendalian makan misalnya, manusia moderen tidak lagi makan karena lapar tetapi lebih karena jadwal protokoler seperti adanya coffee break ataupun datang ke sebuah perayaan yang biasa disuguhi makanan dan minuman. Akibatnya, manusia tidak mampu menghentikan makan meskipun tubuh telah mengeluarkan sinyal kenyang. Sementara dalam hal aktivitas fisik, manusia moderen hanya membutuhkan sedikit aktivitas fisik untuk memperoleh makanan. Mereka tidak harus bercocok tanam atau pun berburu hewan terlebih dahulu seperti yang dilakukan nenek moyangnya. Selain merubah pola hidup, pengobatan farmakologis juga kerap dilakukan. Beberapa diantaranya menggunakan obat anti obesitas yang menghambat absorpsi lemak, obat yang mempengaruhi gormon gastrointestinal maupun penggunaan obat anti obesitas yang dapat meningkatkan laju metabolisme istirahat.
Pada akhir orasinya Prof Rasjad Indra mengungkapkan, secara genetik manusia lebih dipersiapkan untuk menghadapi kekurangan energi daripada kelebihan energi.
Dalam kondisi kekurangan energi, tubuh manusia melalui mekanisme rasa lapar yang apabila belum terpenuhi tubuh akan mengakses simpanan energi dalam tubuh mulai dari karbohidrat, lemak hingga protein. Sementara kondisi kelebihan energi justru direspon oleh tubuh untuk disimpan tanpa ditunjang pembuangan kelebihan. Untuk itu menurut Indra, penyelesaian obesitas tidak dapat dilakukan melalui pendekatan kuratif namun sebaiknya dengan pendekatan komprehensif secara sosio kultural. Pendekatan ini juga harus didukung oleh kesadaran akan pentingnya mengubah pola hidup dengan kembali ke fitrah manusia.
Prof Dr dr Mochamad Rasjad Indra MS lahir di Gresik 58 tahun silam. Suami dari Dr dr Tinny E Hernowati SpPK(K) yang juga dosen pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) ini memiliki dua orang putra.
Menamatkan pendidikan dasar dan menengah di tempat kelahirannya, Rasjad Indra lulus pendidkan dokter pada 1976, meraih gelar master sains pada 1986, dan gelar doktor pada 1997 kesemuanya di Universitas Airlangga Surabaya. Rasjad Indra adalah staf pengajar FK UB sejak 1980 dengan jabatan asisten ahli madya, golongan III/a. Sejak 2000 hingga sekarang Indra menjabat sebagai Ketua Ikatan Ahli Ilmu Faal Indonesia cabang Malang dan sejak 2002 hingga sekarang menjabat sebagai Kepala Laboratorium Ilmu Faal FK UB. Sebanyak 21 karya ilmiah telah dihasilkan oleh pria yang juga menjabat sebagai Kepala Laboratorium Biomedik FK UB itu. [nik]

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID