Prasetya Online

>

Berita UB

Potensi Plasma Nutfah untuk Pengembangan Pangan Alternatif

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF Versi Word
Dikirim oleh humas3 pada 07 Desember 2011 | Komentar : 0 | Dilihat : 3570

Prof. Ir. Sumeru Ashari, M.Agr.Sc Ph.D
Prof. Ir. Sumeru Ashari, M.Agr.Sc Ph.D
Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FPUB) menyelenggarakan Seminar Nasional "Potensi Plasma Nutfah untuk Pengembangan Pangan Alternatif", Sabtu (3/12) di Hotel UB. Acara ini sekaligus merupakan ajang temu alumni FPUB dan pelepasan tiga guru besar FPUB.

Materi yang dibawakan dalam seminar ini adalah "Peran Sains dalam Pendayagunaan potensi Plasma Nutfah Pangan Nasional" yang dibawakan oleh Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Prof. Dr. Ir. Bambang Prasetya, "Dukungan Penelitian dan Pengembangan Inovasi Teknologi dalam Pengelolaan Plasma Nutfah Mendukung Pengembangan Pangan Alternatif" oleh Kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Dr. Ir. Kasdi Subagyono, M.Sc, "Posisi Strategis Plasma Nutfah Daerah" oleh Prof. Ir. Sumeru Ashari, M.Agr.Sc Ph.D, dan "Potensi dan Peran Strategis Plasma Nutfah Lokal Mendukung Pengembangan Pangan Alternatif" oleh Kepala Bidang Penganekaragaman dan Konsumsi Pangan Badan Ketahanan Pangan Provinsi jawa Timur Ir. Apriyanto, MM.

Nasi yang kita makan, gula, buah-buahan yang kita konsumsi dan semua produk pertanian yang kita butuhkan adalah sumbangan plasma nutfah. Plasma Nutfah adalah masa organisme (flora dan fauna) yang masih membawa sifat-sifat genetik asli yang dapat diwariskan. "Karakter tersebut bisa dipadukan guna perakitan dan pengembangan kultivar baru yang berkarakter unggul, dengan demikian stok plasma nutfah sangat diperlukan," ungkap Sumeru. Sumeru mengatakan pemanfaatan plasma nutfah belum maksimal karena masih perlu produk impor secara sengaja atau tidak sengaja, dan karya anak bangsa masih belum didukung maksimal pengembangannya.

Kepunahan plasma nutfah disebabkan oleh ulah manusia, pembakaran hutan, illegal logging, alih fungsi lahan penggunaan jenis impor/varitas unggul, pencurian oleh orang asing, serta bencana alam. Eksistensi beberapa plasma nutfah menjadi rawan dan langka, bahkan ada yang telah punah akibat pemanfaatan sumber daya hayati dan penggunaan lahan sebagai habitatnya.

Menurut Sumeru, upaya pelestarian plasma nutfah adalah dengan konservasi in-situ dan konservasi ex-situ. Konservasi in-situ adalah konservasi dari spesies target 'di tapak' atau 'on site', dalam ekosistem alami atau aslinya, atau pada tapak yang sebelumnya ditempati oleh ekosistem tersebut. Konservasi ex situ merupakan metode konservasi yang mengonservasi spesies di luar distribusi alami dari populasi tetuanya. Kebun botani (raya), arboretum, kebun binatang dan aquarium merupakan metode konservasi ex-situ konvensional. "Fasilitas ini menyediakan bukan hanya tempat terlingdung dari spesimen spesies langka tetapi juga memiliki spesies pendidikan." paparnya.

Pelepasan Tiga Guru Besar FPUB

Pelepasan guru besar FPUB
Pelepasan guru besar FPUB
Dalam acara ini diadakan pelepasan tiga guru besar FPUB. Mereka adalah Prof. Dr. Ir. Hj. Siti Rasminah Chailani Sy., Prof. Dr. Ir. Iksan Semaoen, M.Sc, dan Prof. Dr. Ir. Jody Moenandir, Dip.Agr.Sc. Rasminah lahir di Banyuwangi, 24 September 1941. Ia menyelesaikan pendidikan S1 di UB dan S3 di Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia pernah menjabat sebagai Rektor Institut Pertanian Malang periode 1994-1996, dan sekarang sebagai Ketua Stikes Widya Cipta Husada Kepanjen Malang. Sementara, Ikhsan lahir di Bangkalan, 27 Oktober 1941. Ia menyelesaikan S1 di UGM, kemudian S2 dan S3 diselesaikan di University of the Philippines at Los Banos. Ia pernah menjabat sebagai rektor di Universitas Trunojoyo di Bangkalan. Sedangkan Jodi lahir di Malang, 10 November 1940.Ia menyelesaikan S1 di UB, S2 Post Graduate Diploma in Agricultural Science, Sydney University, dan S3 di UB. [mit]

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID