Prasetya Online

>

Berita UB

Manan Idris: Ramadhan Membuahkan Ketaqwaan

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh prasetya1 pada 08 September 2008 | Komentar : 0 | Dilihat : 2367

Drs HA Manan Idris
Drs HA Manan Idris
Keluarga besar Universitas Brawijaya, Jumat (5/9) menyelenggarakan acara buka puasa bersama yang dilanjutkan dengan shalat magrib dan isyak, serta shalat tarawih di gedung PPI UB. Menjelang shalat tarawih, acara diisi dengan ceramah oleh Drs HA Manan Idris, dosen Pendidikan Agama Islam Universitas Negeri Malang.
Dalam ceramahnya, disebutkan bahwa bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh ampunan dan berkah. Setiap Muslim yang diberi kesempatan bertemu bulan suci Ramadhan menurutnya wajib bersyukur karena masih diberi waktu untuk membakar dosa-dosanya dan kembali suci. ?Dalam bulan Ramadhan setiap ibadah, baik wajib maupun sunnah, akan dilipatgandakan pahalanya?, ujarnya. ?Namun, terhadap setiap ibadah tersebut kita juga harus mencermati apakah ia layak diterima oleh Allah SWT ataukah hanya mendapatkan lapar dan haus belaka?, tambahnya. Untuk itu, ia menyarankan agar setiap niat ibadah yang dilakukan ikhlas diserahkan semata hanya kepada Allah SWT.
Di samping mengandung nilai-nilai ukhrawi, menurutnya setiap ibadah baik wajib maupun sunnah yang diperuntukkan bagi manusia, di antaranya puasa di bulan suci Ramadhan adalah untuk kebaikan manusia di dunia termasuk kesehatan. Jika telah demikian, maka setiap ibadah yang dilakukan di bulan suci akan membuahkan lima sifat ketaqwaan yang diterangkannya. Lima sifat ketaqwaan tersebut adalah percaya pada yang ghaib dengan manifestasinya kejujuran, suka mendirikan shalat serta suka menyisihkan sebagian harta yang dimiliki untuk orang lain yang berhak (sedekah). Sifat ketaqwaan selanjutnya adalah mengimani yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW (Al Qur?an), dengan manifestasinya yaitu tadarus dengan banyak membacanya secara benar, paham yang dibacanya, serta  mengamalkan apa yang dibacanya. Sifat ketaqwaan terakhir yang dijelaskannya adalah mengimani hari akhir yang bermanifestasi pada sikap hidup wara? (penuh kehati-hatian), karena keyakinan bahwa setiap tindakannya akan dimintai pertanggungjawaban. [nok]

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID