Konferensi Internasional FP UB
Selama dua hari, Selasa-Rabu (7-8/2) Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FP UB) menyelenggarakan Konferensi Internasional Pertama mengenai penambangan dan artisanal berskala kecil yang ternyata memiliki peran yang signifikan secara ekonomi, sosial budaya, hingga kesehatan masyarakat yang berada di sekitarnya. Sebagai pembicara di undang Dr. C.W.N. Andersen - Massey University New Zealand, Prof. Xinbin Feng - Institute of Geochemistry Chinese Academy of Sciences, Prof. B.M. Kumar - Kerala Agricultural University India dan Prof. Edi Widjajanto - Medical School UB serta peserta lain yang datang dari berbagai daerah. Sebanyak 55 peserta mendaftarkan diri mengikuti Konferensi Internasional tersebut.
Prof Dr Ir Yogi Sugito selaku Rektor UB, melaksanakan penandatangan MoU antara UB dengan Universitas Mataram, Massey University dan Chinese Academy of Sciences. Pada kesempatan yang berbeda Prof. Eko Handayanto selaku Conference Coordinator memiliki keinginan International Conference berikutnya diadakan di Universitas Makasar, sehingga konferensi ini bisa terus berlanjut. Ini juga merupakan kesempatan yang baik bagi para peneliti-peneliti muda di Indonesia agar dapat bertemu secara langsung dan menambah network mereka supaya terus terpacu membuat paper yang berkualitas internasional, lengkapnya.
Tujuan dari acara tersebut adalah untuk berbagi hasil riset terbaru, pengalaman dari berbagai peneliti, industri, komunitas, dan pengambil kebijakan; serta mendiskusikan arah dari riset terpadu (collaborative research) dalam manajemen Penambangan dan Artisanal berskala kecil. Sekaligus memperkuat ikatan antara peneliti, industri, komunitas dan pembuat kebijakan.
Pada Rabu dilanjutkan dengan berbagai presentasi paper oleh para peserta serta kesimpulan secara umum yang di moderatori oleh Dr. C.W.N. Andersen. Para peserta memberikan masukan agar pada konferensi selanjutnya para wakil dari perusahaan pertambangan dan pengatur kebijakan (pemerintah ) serta para praktisi penambangan kecil dapat mengikuti sehingga didapat berbagai masukan dari berbagai sudut pandang masing-masing. Selain itu peserta menginginkan para peneliti melihat secara langsung faktor apa saja yang mempengaruhi pelaku di lapangan sehingga di dapat solusi yang lebih kongkrit dalam mengatasi berbagai permasalahan seputar penambangan. Dr. C.W.N. Andersen juga mengingatkan bahwa Indonesia tidak memerlukan masukan dari luar mengenai bagaimana mereka seharusnya melakukan sesuatu, tapi peneliti Indonesia-lah yang harus mencarikan jalan keluar terbaik karena mereka yang lebih paham mengenai faktor-faktor yang ada di Indonesia dan peneliti dari luar yang harus belajar lagi.
International Conference di lanjutkan dalam bentuk Seminar dan Lokakarya yang dilaksanakan pada tanggal 10 Februari dengan tema Sustainable Asgm (Artisanal And Small Scale Gold Mining) Practices di Lombok Garden Hotel, Mataram yang disorganized oleh Propinsi Nusa Tengara Barat dan Balifokus. Menghasilkan pokok bahasan PESK (Penambangan Emas Skala Kecil), sebagai berikut; Penambangan emas yang aman dan tidak merusak (mencemari) sistem tanam serta lingkungan sekitar, Teknik pembuatan emas yang ramah lingkungan, Cara mengurangi efek emisi yang dihasilkan dari penambangan serta pembuatan emas
Keesokan harinya dilanjutkan dengan trip dan penyuluhan di daerah Sekotong (pusat penambangan rakyat skala kecil) yang membutuhkan waktu sekitar 2 jam dari Mataram. Setelah melihat langsung penambangan yang dilakukan di area tersebut didapat kesimpulan bahwa penambangan tersebut banyak menggunakan campuran merkuri atau sianida sebagai campuran aktif yang memisahkan emas dengan tanah, yang mana bahan tersebut dapat mempengaruhi kesehatan pekerja serta masyarakat sekitar. Tidak hanya dua bahan tersebut, bahan amalgam (dalam bentuk uap saat pembakaran) yang digunakan oleh para penambang untuk membentuk emas-pun memiliki kandungan racun yang jauh melebihi merkuri ataupun sianida. [by: waw/pon]


Follow Us