Prasetya Online

>

Berita UB

Disertasi Pardono: Aplikasi Pupuk pada Pergiliran Tanaman Sayuran

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh prasetya1 pada 13 Februari 2008 | Komentar : 0 | Dilihat : 3692

Ir Pardono MS
Ir Pardono MS
Lahan pertanian banyak kehilangan bahan organik karena terangkut dalam bentuk hasil panen, pembakaran sisa panen dan erosi tanah. Kehilangan bahan organik ini disebabkan oleh sistem pemupukan dimana efek sistem pupuk dalam kurun waktu terakhir ini menimbulkan masalah. Salah satu permasalahan pemupukan pada saturan daun adalah pemupukan organik. Penggunaan pupuk organik C odorata dan T diversifolia diperlukan pertimbangan yang banyak antara lain sumber mana yang baik, penyediaan yang cukup, volume yang sesuai kebutuhan, efek yang meningkatkan produksi dan mutu, residu yang bermanfaat untuk tanaman berikutnya Secara praktis membutuhkan tenaga banyak dan tempat yang luas. Untuk mencapai efisiensi yang tinggi diperlukan moel aplikasi yang jitu. Mempelajari potensi C odorata dan T diversifolia sebagai sumber pupuk untuk mendapatkan bentuk yang tepat, aplikasi yang mudah serta residunya bagi tanaman berikut diperlukan penelitian yang sistematis.
Demikian Pardono dalam ujian akhir disertasinya, di Gedung Pascasarjana Unibraw, hari Rabu (13/2). Disertasi itu berjudul ?Aplikasi Pupuk Hijau Chromolaena odorata dan Tothonia diversifolia Pada Pergiliran Tanaman Sayuran Daun di Desa Sobokerto Kabupaten Boyolali?. Lebih jauh dikemukakan, penelitian disertasi ini dilakukan dalam tiga tahap, hasil penelitian tahap satu menjadi dasar tahap dua dan seterusnya. Tahap pertama berupa survai potensi sayuran dan penggunaan pupuk organik dalam budidaya sayuran yang dilaksanakan di sentra penanaman sayuran daun Desa Sobokerto, Boyolali, Jawa Tengah. Tahap kedua berupa penelitian inkubasi tanah dicampur dengan biomassa C odorata dan T diversifolia, dilaksanakan di laboratorium Jurusan Tanah Universitas Negeri Surakarta. Tahap ketiga aplikasi biomassa C odorata dan T diversifolia sebagai pupuk organik dalam budidaya sayuran daun dilaksanakan di Desa Sobokerto, Boyolali.

Hasil penelitian mengenai potensi sayuran daun dan sumber bahan organik di desa Sobokerto menunjukkan penggunaan pupuk anorganik 83% dan pupuk organik 16,7%. Macam pupuk organik meliputi pupuk kandang, kompos dan pupuk hijau.

Penggunaan pupuk kandang dilakukan bagi petani yang mempunyai ternak sehingga sifatnya terbatas. Penggunaan kompos, 25% bahan bakunya berasal dari limbah pertanian, 12,5% berasal dari seresah dan 62,5% berasal dari tumbuhan di sekitar lahan. Pemahaman petani terhadap pemanfaatan tumbuhan di sekitar lahan sebagai sumber pupuk mencapai 83,3%. Keberadaan sumber pupuk bahan organik banyak tumbuh di lahan tidur, bantaran, sempadan, dan pinggir jalan.

Sedangkan, penelitian mengenai inkubasi C odorata dan T diversifolia pada beberapa bentuk materi menghasilkan pada C odorata perubahan bentuk serbuk mempercepat laju dekomposisi dibandingkan potongan segar dan potongan kering. Pada T diversifolia laju dekomposisi tercepat dicapai pada bentuk potongan segar. Selain itu, kandungan N total tanah meningkat selama waktu inkubasi. Untuk analisis statistik terhadap LAR pada tanaman sawi dan kangkung menunjukkan berbeda nyata pada umur 14 dan 21 HST, sedangkan pada bayam semua perlakuan tidak berbeda nyata. Perbedaan terjadi pada perlakuan macam pupuk dan periode tanam. Secara umum, macam pupuk C odorata dan T diversifolia mengakibatkan kisaran nilai LAR yang sama pada berbagai perlakuan, sedangkan pada kotoran sapi ditambah urea, kotoran sapi dan urea kisarannya sangat besar.

Disertasi Pardono menyimpulkan: Pertama, desa Sobokerto merupakan daerah sentra penanaman sayuran daun, jenis sayuran yang potensial adalah kangkung, sawi, dan bayam dengan produktivitas rata-rata sekitar 7 ton/ha. Penggunaan pupuk organik masih terbatas pada kotoran sapi dan baru dilakukan oleh 16,7% responden petani. Kedua, C odorata dan T diversifolia dapat dengan mudah tumbuh di daerah Sobokerto. Luas hamparan mencapai 5,07% dari total luasan tanaman sayuran. Biomassanya dapat dimanfaatkan untuk pupuk organik karena kandungan C/N bahan segar masing-masing sebesar 20,05 dan 18,69. Laju dekomposisi biomassa ini kalau dicampur dengan cukup cepat.

Laju dekomposisi tercepat pada perlakuan C odorata bentuk serbuk, sedangkan pada perlakuan T diversifolia bentuk potongan basah. Ketiga, pengaruh pemberian biomassa C odorata dan T diversifolia terhadap LAR dan RGR ketiga sayuran relatif stabil dibandingkan pupuk yang lain. Efek lanjut pertumbuhan ini pada bobot biomassa segar kangkung dan sawi, nilai paling tinggi sebesar 39, ton/ha. Keempat, pemberian pupuk organik C odorata dan T diversifolia mempunyai efek residu yang berbeda pada setiap frekuensi pemberian, namun secara umum residu dapat dimanfaatkan oleh tanaman berikutnya. [bhm]

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID