Bedah Buku "Entrepreneurship Kaum Sarungan"

Dikirim oleh humas3 pada 19 Agustus 2010 | Komentar : 1 | Dilihat : 4572

cover buku Entrepreneurship kaum sarungan
cover buku Entrepreneurship kaum sarungan
Perbedaan entrepreneur umum dan entrepreneur sarungan adalah orientasi dalam berwirausaha. Entrepereneur umum identik dengan keuntungan sedangkan kaum sarungan berorientasi pada keuntungan dan nilai keberkahan. Demikian Dr Jazim Hamidi SH MH, dosen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (UB), berbagi salah satu hasil penelitiannya bersama Mustafa Lutfi SH MH yang dituangkan dalam buku berjudul "Entrepreneurship Kaum Sarungan". Nilai keberkahan sebagaimana dijelaskan Jazim Hamidi mengedepankan transendentalisme yang bukan hanya mempertimbangkan halal atau haram tapi juga kebaikan barang itu untuk manusia.

Bedah buku yang dilaksanakan di gedung PPI Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Kamis (19/8) ini mendefinisikan kaum sarungan yaitu mereka yang berdiam (tinggal), menetap dan menjadi alumni pesantren. Keberadaan mereka yang pernah atau tinggal di pesantren tentu tak lepas dari sosok pemimpin spiritual dan sosial yaitu kyai. Salah satu pembicara, Prof  Dr Thohir Luth MA menyampaikan dalam buku ini diungkap mengenai posisi kyai sebagi tokoh sentral yang mendorong berkembanganya aktivitas kewirausahan di pesantren.

Kyai sebagai pemimpin memiliki empat model kepemimpinan yang terekam di buku ini yaitu kepemimpinan yang melayani, jiwa kepemimpinan yang ikhlas, jiwa kemandirian, jiwa kesederhanaan.  Prof Thohir Luth menyampaikan Kyai mempunyai ketulusan dalam memimpin. "Ketulusan itu ibarat magnet  yang menarik benda yang jauh jadi dekat, yang didalam tanah jadi muncul ke permukaan, " ungkapnya.

peserta bedah buku Entrepreneurship Kaum Sarungan
peserta bedah buku Entrepreneurship Kaum Sarungan
Dalam paparan ini dicontohkan beberapa Pondok Pesantren(PP) yang memiliki unit usaha yaitu PP Al-Amien Prenduan, Sumenep (self motivation modern), PP An Nuqyoh Guluk-guluk (Independent Mind), PP Sidogiri Pasuruan (Kopontren/Koperasi Pondok Pesantren), PP Gontor (Agribisnis). Namun menurut Prof Thohir Luth penjelasan dalam buku ini kuran lengakp terkait unit usaha yang dilakukan oleh PP. "Kalau referensinya unit usaha yang dilakukan lengkap, yang membaca akan semakin yakin kalau PP bisa memberikan kontribusi untuk kemandirian nasional," tambahnya.

Bedah buku yang diselenggarakan oleh Pusat pembinaan Agama (PPA) UB ini dihadiri oleh perwakilan sivitas akademika dan remaja masjid, ta'mir, pengasuh PP se-Malang Raya. Bedah buku ini dimoderatori oleh Dr Imam Hanafi dan menghadirkan A.Khoerussalim lkhs (Presiden Direktur Entrepreneur College, Jakarta) sebagai salah satu pembicara. Pengusaha yang akrab dipanggil Salim ini pula yang membantu proses penerbitan buku ini. Ia mengubah penyajian buku ini yang awalnya sangat akademis menjadi lebih populer. "Buku ini nantinya bukan hanya akan dibaca oleh kalangan kampus , tapi juga kalangan yang tidak pernah kuliah sekalipun," ungkap Salim.[ai]

 

Artikel terkait